![]() |
| Abdur Rahmad (Sekretaris 1 Bidang Kaderisasi PC PMII Probolinggo) |
Regenerasi (kaderisasi) dalam tubuh organisasi khususnya PMII menjadi suatu kebutuhan yang sangat penting dan utama. Maka tidak heran dalam hymne pmii ada bait "Bersemilah-bersemilah, kau harapan bangsa."
Pergerakan Mahasiswa
Islam Indonesia (PMII) adalah organisasi yang lahir dalam tubuh Nahdlatul Ulama
melalui departemen pendidikan tinggi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama pada 17
April 1960 di Surabaya. Artinya, keberadaan PMII hingga saat ini sudah mencapai
pada umurnya yang ke-64 tahun.
Tiada ungkapan lain
kecuali rasa syukur alhamdulillah kepada Allah SWT bahwa PMII masih terus eksis
menghiasi perjalanan bangsa Indonesia, generasi ke generasi bergantian sesuai
dengan dinamikanya. Kami sebagai penulis juga bersyukur telah menjadi bagian
dari PMII sejak 6 tahun lalu.
Bulan ini tepatnya
dari tanggal 9-15 Agustus 2024, PMII punya hajat besar skala nasional atau
bahkan internasional (mengingat PMII memiliki Pengurus Cabang Istimewa di
beberapa negara) yakni Kongres XXI di Palembang. Kongres menjadi agenda setiap
3 tahun sekali sebagai pergantian ketua umum PB PMII dan menjadi momen untuk
mengevaluasi kinerja kepengurusan sebelumnya untuk bekal kepengurusan
selanjutnya. Untuk kali ini, tercatat ada 22 calon ketua umum dan 8 calon ketua
kopri PB PMII. Kepada merekalah, kita sebagai kader akan menaruh harapan besar
untuk perkembangan dan kemajuan PMII untuk 3 tahun mendatang.
Hakikat dari kongres
adalah regenerasi (kaderisasi) yang merupakan faktor penting dalam tubuh
organisasi khususnya PMII. Maka tidak heran dalam hymne PMII ada bait
"Bersemilah-bersemilah, kau harapan bangsa." Artinya, yang lama
biarkan bersemi dalam realitas perjuangan atau ruang publik baru, serta biarkan
PMII bersemi dengan spirit atau kepengurusan baru sebagai konsekuensi dari
kaderisasi yang terus berjalan dalam situasi dan kondisi apapun.
Mumpung momentum
kongres, sangat perlu bagi siapapun terutama para kader PMII untuk
merefleksikan bersama, terutama dari segi kepemimpinan PMII. Terlepas dari
bagaimana pergolakan dan dinamika kongres, terlepas dari kepentingan, dan
apapun namanya, bagi saya kepada yang nantinya akan terpilih, hanya ingin
menitipkan PMII untuk selalu diarahkan ke jalan yang baik, supaya kedepan lebih
maju dan mandiri. Maaf, kami hanyalah kader biasa, mungkin tidak pantas
mengatakan "menitipkan" tapi harus tetap kami sampaikan.
Dalam kepemimpinan
yang nantinya akan dijalankan, besar harapan bagaimana mandataris ketua umum
dan ketua kopri mampu untuk menjadi teladan dan sosok yang berpikir strategis.
Memiliki mental tangguh untuk mengenali dan menggali potensi ancaman dan
peluang, menetapkan prioritas untuk memusatkan perhatian, serta menggerakkan
diri dan organisasinya dalam memikirkan serta bertindak untuk memilih jalur
yang menjanjikan kecerahan masa depan PMII dan kadernya.
Seorang ketua umum
dan ketua kopri yang memiliki pemikiran strategis, harus juga mempunyai
pandangan yang melampaui situasi saat ini, dan berpikir kritis serta kreatif
atas berbagai potensi yang ada di sekitarnya untuk semata-mata para kader dan
masyarakat sekitarnya. Dengan menilai potensi risiko dan peluang setiap jalan
yang dibayangkan, seorang ketua umum juga seharusnyalah dapat mengembangkan
potensi yang didukung oleh strategi-strategi guna memajukan PMII.
Berpikir strategis
untuk kemajuan PMII tidak sekadar bermodalkan kemampuan, tapi juga harus
memiliki peluang. Seseorang bisa saja bisa saja memiliki pemikiran strategis,
tetapi jika tidak pernah mendapat pengakuan, perannya tidak akan memberikan
dampak pada hasil. Banyak posisi puncak dalam organisasi tidak memerlukan
banyak pemikiran strategis; cukuplah dengan memiliki kemampuan analitis,
pemecahan masalah, dan kemampuan eksekusi yang kuat. Namun, perlu dijaga peran
yang memungkinkan kita selalu menunjukkan keterampilan berpikir strategis, yang
sering kali tidak efektif karena bersifat politis.
Dalam bayangan saya
ketika memperlajari banyak literatur beberapa bulan terakhir ini, PMII butuh
sosok pemimpin yang melampaui dari sekadar beberapa persyaratan yang tertera di
pamflet demi pemflet. Sosok pemimpin PMII harus memilik gerak secara efektif
dalam waktu yang singkat ketika melihat perubahan. Semisal persoalan mendasar
yang selama ini dihadapi PMII adalah bagaimana PMII memiliki kader dominan di
kampus umum atau sejauh mana PB PMII mampu memfasilitasi para kadernya yang
memiliki spesialisasi yang unik. Hal mendasar dan umum ini saya kira perlu
dipertanyakan kembali untuk menguji sejauh mana ketua umum dan ketua kopri
terpilih nantinya untuk menunjukkan konsep dan gagasannya diluar kebiasaan yang
selama ini kita ketahui bersama. Mampukah mereka itu menjawabnya? Kita lihat
kedepannya.
Diluar dari sebatas
jualan CV (persyaratan menjadi ketua umum dan ketua kopri), ada hal lain yang
perlu di explore yakni sejauh mana mereka berkontribusi dan melakukan terobosan
selama di kepengurusan yang sebelumnya untuk kemudian diaplikasikan lebih
serius di kepengurusan yang akan dipimpinnya. Sudah seberapa hebat mereka untuk
menghadapi tantangan PMII saat ini, yang salah satu paling berat adalah
tantangan ketika dipertemukan dengan anak muda yang memiliki previllege, anak
muda yang tidak berafiliasi dengan organisasi manapun, punya jaringan yang
luas, lulusan kampus dan sekolah favorit di Indonesia dan luar negeri yang
kemudian setelah lulus mampu membuat gebrakan diluar nalar dan kebiasaan para
warga pergerakan. Bagaimana kemudian ketua umum PB PMII menjawab tantangan
demikian dengan pikiran dan terobosannya?
Menjadi sosok seorang
ketua umum dan ketua kopri PMII sudah selayaknya kembali menghidupkan perannya
sebagai agen perubahan, kembali aktif untuk menyoroti persoalan bangsa secara
tersistem dan sistematis mulai pengurus besar, daerah, hingga kepengurusan
cabang di seluruh Indonesia. PMII yang selama ini dikenal sebagai wadah para aktivis
yang kritis terhadap kekuasaan untuk tidak sampai terjebak pada api kekuasaan
yang dapat melumat para aktivis, sehingga kader PMII tidak mempunyai pijakan,
membuat disorientasi, sehingga lupa pada akar perjuangannya yakni sebagai agen
perubahan dan pengabdi kepada rakyat.
Kita seringkali
mendengar atau bahkan mungkin kita sendiri yang menggaungkan dalam banyak
kesempatan terutama di mimbar bebas ketika aksi demontrasi bahwa suara rakyat
adalah suara tuhan. Tetapi persoalannya, rakyat perhari ini seringkali tidak
atau bahkan tidak punya ruang untuk menyuarakan keluhannya sendiri. Sehingga
perlu pihak lain, dalam hal ini PMII perlu mengambil perannya untuk menyuarakan
keluahan rakyat. Beban yang diberikan dan dipikulkan ke pundak para aktivis
PMII sebagai penekan dan kontrol kekuasaan tidak boleh sampai dilupakan karena
terlena pada kekuasaan itu sendiri.
Kami sebagai kader
biasa yang tidak punya kuasa hanya ingin terus menitipkan perjuangan PMII
kepada kalian yang nantinya terpilih sebagai ketua umum dan ketua kopri PB
PMII. Kekuasaan yang nantinya perlu untuk didekati dan dijadikan partner tidak boleh
membuat candu. Ada gejala aktivis yang diungkapkan oleh Chantal Mouffe sebagai post
politics, dimana semakin tidak jelasnya siapa lawan dan siapa kawan, tidak
ada spektrum kiri dan kanan, malah cenderung berkumpul ke tengah. Magnet
kekuasaan sewaktu-waktu membuat aktivis khususnya PMII kehilangan nilai
perjuangannya. Hingga datang momentum mereka mengedepankan ideologi
kesejahteraan, itupun bukan kesejahteraan rakyat, melainkan kesejahteraan para
aktivis dan para pengurusnya.
Hal itu bukan sesuatu
yang buruk karena mengutip pernyataan Mas Dwi Winarno bahwa PMII memang perlu
berkawan baik (berkolaborasi dan jadi partner) dengan pemerintahan setempat,
karena dari merekalah sebagaian dana berasal. Akan tetapi, jangan sampai
terlena dan menjual organisasi dengan cara-cara yang tidak relevan dengan value
organisasi. Jangan sampai dunia organisasi dan aktivis hanya dijadikan sebagai sebuah
perjalanan menuju keuasaan.
Dalam bahasa saya
menerjemahkan penyampaian Mas Dwi Winarno, sangatlah rugi jika ada aktivis yang
kemudian klepak-klepek dengan tawaran para penguasa dengan tawaran – semisal –
jadi staff atau komisaris. Menjadi aktivis organisasi memang diharuskan kreatif
dan professional serta mandiri supaya tidak mudah bergantung dan didikte oleh
siapapun yang membuat ruang geraknya semakin di persempit. Alasannya cukup
sederhana, yakni tidak ada makan siang gratis, semua ada harganya. Lalu, workt
it kah itu semua jika dibandingkan dengan hilangnya idealisme, hilangnya
kepekaan, hilangnya rasa pengabdian dan perjuangannya, hilangnya nilai-nilai.
PB PMII melalui ketua umum dan ketua kopri terpilihnya perlu menjawab dan
meyakinkan para kadernya atas gejala tersebut.
Terakhir, kami
mengutip dari perkataan Mas Dwi Winarno bahwa mencalonkan diri itu sesuatu yang
mudah, tapi menjadi seorang Ketua Umum PB PMII itu tidak akan pernah mudah.
Refleksikan baik-baik ya, Sahabatku.
Selamat Berkongres dengan riang gembira.
