![]() |
| Pembukaan Kongres XXI PMII di Palembang Sumatera Selatan |
Bertemu dengan Kader Indonesia Timur adalah harapan terbesar, yang mengatrol niat dan memberangkatkan saya ke Kongres PMII XXI Palembang. Yang oleh alam diberkatinya dengan mempersatukan lokal tempat persinggahan dengan Kader Indonesia Timur. Dan bertemu Kader se Nusantara dari Sabang sampai Merauke adalah sebuah keniscayaan.
Setiap malam tak terlepas dari tawa, ngobrol dan diskusi panjang untuk harmonisasi dan meromantisasi sebagai Kader PMII. Sangat tertarik dari budaya dan kecerdasan kader PMII di di Indonesia Timur. Stereotipe-stereotipe yang biasa dilekatkan kepada Indonesia Timur pasti runtuh. Menemui banyak persamaan pengaruh VOC dan Kolonialisme. Mulai dari kesusahan mengartikulasikan bahasa, akhirnya sedikit melenceng dari kosa kata aslinya dan lain-lain.
Melihat militansi budaya, norma dan adat-istiadat mereka (Indonesia bagian timur) serta berproses di PMII, aku banyak belajar untuk merefleksikan atas kelambatan dalam akselerasi berproses di Organisasi. Saya berharap Moderenisasi yang ugal-ugalan jangan sampai menggeret budaya keluar dari identitas mereka, walau sedikit demi sedikit mulai menjarah.
Bangsa yang kaya, tetapi alam dikudeta beser-besaran dari tugasnya - Pemerintah hanya menggerogoti dan rakyatnya tak diurusi. Bangsa mempunyai harapan besar kepada PMII. Sebagai Kader PMII, harus tangkas dalam mengawal kebijakan-kebijakan Pemerintah yang merugikan Negara, mengeksploitasi alam bahkan rakyat, dan yang menyengsarakan bangsa. Lebih dari itu kopri membunyai tanggung jawab khusus untuk menyongsong wacana kesetaraan Gender mengingat perempun adalah makhluk istimewa dalam islam dan terus mengadopsi teori feminimisme sebagai pisau analisis. Menurutku itu tidak sekedar tanggung-jawab KOPRI tapi semua Kader PMII, membuang jauh seksisme, menyabut stereotype dan patriarki dari akarnya, supaya tidak hadirnya subordinasi.
Menarik!!! Ucapan Rokky Gerung yang menyentil KONGRES PMII XXI sebelum dilaksanakan. “Tarik Semua Kader PMII yang di distribusikan di Pemerintahan,” ujarnya. Pertanyaannya, apakah harus? secara pribadi dengan tetes keidealisan dan turut keneranian saya mengharuskan. Kerana kalau kader-kader PMII masuk ke wilayah Pemerintahan - dengan alih-alih posisi strategis. Maka PMII akan dicengkram oleh penguasa, tak bisa berkutik. Dengan itu PMII tak bisa mengawal isu-isu nasional yang merugikan bangsa, karena disumpal kekuasaan. Dengan ini kutanyakan kepada sahabat-sahabat terkait regenerasi kepemimpinan melalui Kongres atau melalui PEMIRA supaya tidak ada intervensi konstelasi elit. Kuserahkan Jawaban ini pada sahabat-sahabat.
Seharusnya PB PMII bercermin dari kader Indonesia Timur, militansi mempertahankan budayanya. PMII harus militansi membela kaum Mustadafin atau yang termajinalkan (mengimplementasikan Nilai Dasar Pergerakan). Itulah Nilai-nilai yang harus dipertahankan seluruh kader PMII. Bukan Konservatif pemikiran dan status quo atau budaya lama, tapi itu memang yang harus diinternalisasikan dan terpatri ke seluruh kader PMII - ilmu iku kelakone kanti laku.
Menjemput Teori Tindakan prilaku sosial Max Waber. Kader PMII harus memakai tindakan tradisional yang berorientasi pada nilai. Membela nilai-nilai yang dibawa PMII dan mengunakan teori tindakan rasional instrumental yang mendasarankan pada pertimbangan yang rasional, dalam pemilihan Ketua Umum PB PMII ini misalnya. Sosok yang bisa momong PMII kedepan yang lebih baik, lebih kompeten dalam membangun peradaban bangsa serta mengawal isu-isu nasional, tak usah muluk- muluk dulu sampai ke transnasional; bukan analisis untung rugi secara pribadi. Dan mengeser tindakan sosial, tindakan yang hegemoni nafsu tanpa refleksi intelektual atau perencanaan yang sadar.
Menjenguk Teori masyrakat menentukan perilaku individu dan Individu menentukan masyarakat. Dimana ada proses internalisasi dan eksternalisasi dalam kader-kader PMII. Pada hemat saya; mengonvesionalkan kebiasaan, norma dan kultur yang ada di PMII. Dengan kausalitas tersebut Kader PMII bisa memilih Pemimpin yang mampu membawa lebih progresif, karena didalamnya ada nilai kepatuhan, konformitas, dan persuasif (karena PMII adalah organisasi kaderisasi).
Maaf bila teori-teori yang saya nukil keliru, karena hanya mengandalkan ingatan yang kuperoleh melalui buku-buku, dan yang kugunakan tidak pas.
Tapi aku sedikit dibuat kebingungan dan diratapi nestapa. Kenapa? Karena PMII adalah organisasi kaderisasi, dengan ini sanad keilmuan kita Senior; Mas dan Mbak kita. Kita harus mendukung tujuan yang mulia itu, yang kusampaikan diawal. Saya antarkan cukup sampai sini saja.
Sedikit kritik untuk sahabat-sahabat yang hadir di arena Kongres, yang mulai kehilangan budaya tegur sapa, tidak meromantisasi momen tumpleknya kader PMII se Nusantara. Dan, saya sedikit geram tidak adanya bazar buku yang disediakan di area bazar. Sedikit redam mengetahui ada yang mempelopori munulis opini ini. Tapi apalah daya ku; aku bukan tokoh di PMII, hanya bagi kecil dari rombongan liar yang akrab disebut Romli. Saya tak ingin memberi warna kelabu terhadap warna-warni dinamika seksi yang ada di Cabang setiap kabupaten/kota dan Koordinator Cabang setiap daerah, karena yang harus bertanggung-jawab menyelesaikan konflik yang ada di PC dan PKC se Nusantara adalah PB PMII dan menjadi tanggung-jawab bersama menjaga dan merawat PMII (kolektif kolegial).
Sesuai yang tercantum dalam Mars PMII “satu barisan dan satu jiwa” atau “satu angkatan dan satu jiwa”; kader PMII harus menghayati itu, supaya tidak terpecah belah lalu ambruk. Mengutip sedikit perkataan Bung Kris “jabatan formal struktural setinggi apapun di PMII hanyalah sementara, namun jika nilai-nilai PMII tertanam dalam daging, darah, dan ruh maka kamu akan ber PMII seumur hidup”.
Dari raut wajah dan harapan, aku yakin seluruh Kader PMII se Nusantara menginginkan Figur atau Ketua Umum Pengurus Besar Pergakan Mahasiswa Islam Indonesia dan Ketua Umum Pengurus Besar Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia putri mampu momong seluruh kader, progresif, visioner dan terus menyemarakkan Islam Ahlusunnah Waljamaah melalui Kongres PMII XII, Palembang, Sumatra Selatan. Dan tugas kita bersama membunuh intervensi elit distruktural PMII.
Selamat berbahagia untuk sahabat-sahabat yang sedang berkongres.
____
Moment yang tepat untuk mengenang Perjuangan Bangsa. DIRGAHAYU INDONESIA, HUT KEMERDEKAN KE-79.
Oleh: Bayu Pamungkas - Kader Patisipan
