"Ga habis pikir aku bang dengan cara dia (red; mandataris ketum cabang)
yang sekarang, entah pikirannya, gerakannya, kayaknya cuma untuk apa yang dia
mau, bukan yang kita mau bersama," ungkap salah satu kader yang merasa
kecewa dengan seorang ketua yang baru saja terpilih.
Risma (nama samaran)
adalah kader aktif sekaligus pengurus komisariat organisasi ekstra yang ada di
sebuah kampus di Probolinggo. Organisasi ekstra yang dimaksud adalah yang
memiliki corak warna biru kuning. Pasalnya, dia merasa ditekan oleh ketua
cabangnya terkait rekrut merekrut keanggotaan untuk kepengurusan yang baru.
Menurut ceritanya, dia gak diberikan ruang dalam melakukan musyawarah sesama
anggota komisariat untuk menentukan siapa saja yang akan dijadikan perwakilan
ke kepengurusan cabang.
Saya sendiri adalah
demisioner pengurus komisariat 2 tahun lalu di kampus paling timur di Kabupaten
Probolinggo. Jadi sangat wajar jika Risma menyasar saya untuk bermusyawarah dan
diskusi dengan harapan saya bisa memberikan jalan keluar sesuai dengan yang dia
inginkan.
Bukan hanya chat
dari dia, saya juga di chat banyak kader dengan keluhan yang sama. Dari mereka,
saya menangkap bahwa mereka sebenarnya sudah kesal atas perlakuan mandataris
ketua cabang yang mereka nilai semena-mena.
"Ini lho
organisasi kaderisasi, tapi kok saya gak menemukan pembicaraan kaderisasi untuk
merekrut kepengurusan, kok malah diarahkan ke kepentingan politik semua. Stres
sekali," jelasnya melalui chat whatsapp.
Dari keseluruhan
keluhan yang saya terima, saya ingin memberikan poin-poin penting bagaimana
organisasi ekstra di wilayah Probolinggo Raya (kabupaten dan kota) telah hampir
kehilangan jati dirinya.
Meremehkan administrasi sebagai ruh organisasi
Pernah ga sih
terpikirkan bahwa adanya administrasi itu sebagai ruh atau sisi penting dalam
organisasi. Tentu administrasi tidak semudah dan sesempit yang dimaknai oleh
anak-anak organisasi, hanya perihal surat menyurat. Administrasi adalah
serangkaian perencanaan yang tertulis dan terarsip dengan baik untuk kemudian
bisa dijadikan pedoman oleh para kader organisasi.
Administrasi bukan
cuma surat menyurat, lebih dari itu juga soal aturan organisasi yang memuat
ad/art, hasil muspimnas, hasil muspimda, hasil muspimcab, dan lain sebagainya.
Produk-produk administrasi tersebut harus dijadikan landasan bagaimana arah
gerak organisasi, bukan malah keinginannya sendiri yang dikedepankan yang
kadang-kadang bikin kadernya jengkel.
Kenapa jengkel?
Karena sesuatu yang hanya didasarkan pada keinginan pribadinya, kelompoknya,
tanpa memusyawarahkan dengan banyak pihak, tanpa melihat aturan-aturan
organisasi, maka yang terjadi adalah kekecewaan demi kekecewaan. Siapa yang
kecewa? Tentu adalah kadernya. Gak harus kader dari oposisi, kader yang satu
rahimpun (satu rayon dan satu komisariat) dapat dipastikan juga akan merasakan
kekecewaan.
"Kenapa ya bang
dia (red; mandataris ketua umum) ngotot banget begini, padahal secara aturan
yang di muspimnas itu gak diperbolehkan. Kesel aku bang ke dia itu," ungkapnya
dengan nada yang kesal.
Penuturan Risma, ada
salah satu partner kepengurusannya yang ingin direkrut di cabang, sedangkan si
anak ini belum memenuhi syarat sesuai ketentuan (katanya persyaratannya ada di
muspimnas hal 124) yang berlaku. Sang mandataris ketua umum tetap memaksa dia
untuk
Melupakan nafas
utama sebagai organisasi kaderisasi, malah teralihkan ke tujuan-tujuan politis
Jika kita bicara dan
melihat kembali sejarah, sepertinya semua organisasi ekstra kampus memiliki
sejarah yang gemilang. Awal pembentukannya turut serta dihadirkan ide-ide dan
gagasan yang cerdas disertai dengan gerakan yang jelas dan terarah oleh para
muassisya. Sehingga kehadiran organisasi tersebut dapat dirasakan oleh semua
pihak.
Organisasi ini
didirikan dengan nafas utama berbasis kaderisasi. Menurut salah satu muassisnya,
pengurus rayon dan komisariat adalah ujung tombak kaderisasi. Tapi bukan
berarti jika sudah berada di kepengurusan cabang lalu melupakan kaderisasi.
Per hari ini, ada
pergeseran yang cukup signifikan. Alih-alih melakukan banyak kajian dan pelatihan
yang dapat meningkatkan kompetensi kader, mereka justru lebih memilih
menyibukan diri membuat gerbong-gerbong untuk kontestasi memperebutkan posisi
dari periode ke periode. Seharusnya kader dikedepankan supaya mereka mampu
berdaya dan bersaing di tengah kemajuan zaman.
Jika demikian yang
terjadi terus menerus dipelihara, maka dapat dipastikan akan semakin banyak
kader organisasi ekstra yang angkuh dengan nama organisasinya, sehingga merasa
ogah untuk melakukan hal-hal teknis dan melupakan kerja-kerja kaderisasi. Sudah
merasa jadi orang besar (meskipun numpang besar ke organisasi) mungkin.
Dalam pikiran nakal
saya muncul keraguan, jangan jangan mereka ini tidak tahu mau diisi dengan apa
kepengurusan di setiap periodenya. Maka jangan heran ya (wahai kader rayon dan
komisariat) jika program kerjanya banyak tapi banyak yang gak terealisasi.
Alasannya tentu beragam untuk cari aman, tapi lagi lagi bisa dipastikan karena
tidak adanya kekompakan di internal kepengurusan.
Masuk kepengurusan
organisasi tanpa tujuan yang jelas
Masuk di organisasi
tentu perlu tujuan yang jelas. Tujuan ini jangan hanya peruntukkan untuk
mahasiswa baru yang ingin masuk sebagai keanggotaan di sebuah organisasi. Tapi
juga perlu dipertanyakan lagi kepada siapa saja yang ingin masuk kepengurusan di
jenjang-jenjang selanjutnya.
Saya mempertanyakan
sekaligus meragukan terkait apa yang sebenarnya motivasi kader-kader ketika
memutuskan masuk organisasi dan kepengurusan di setiap jenjangnya. Hal ini
adalah pertanyaan serius yang perlu dijawab dengan serius juga. Karena tanpa
alasan yang jelas, jangan-jangan mereka sekadar numpang narok nama dan numpang
membesarkan nama pribadi dibalik kebesaran organisasi.
Jika masuk hanya untuk kepentingan-kepentingan pragmatis seperti mendapatkan jejaring ketika lulus kuliah atau sekadar untuk menempati posisi-posisi strategis di kampus, maka jangan pernah heran jika akhirnya banyak kader-kader non-ideologis yang gak jelas arahnya. Dipastikan juga, mereka tidak akan tertanam dalam dirinya rasa kepemilikan terhadap organisasi, rasa untuk terus memberikan yang terbaik kepada organisasi.
***
*) Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi anonapers.com
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: redaksianona@gmail.com
**) Redaksi berhak tidak menayangkan kiriman tulisan yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi ANONA Pers.
