Ilmu Agama Berharga, Apakah Harus Mahal?

Ketika jemaah membeli tiket, mereka tidak sekadar membayar untuk duduk dan mendengarkan kajian. Mereka menginvestasikan uang mereka untuk sebuah pengalaman, dimana ilmu dan pengalaman spiritual disajikan dalam balutan kenyamanan.

Akhir-akhir ini, semakin marak terdengar omongan bernada sinis dari masyarakat terkait kebijakan majelis atau kajian yang diselenggarakan oleh para tokoh agama, yang mematok harga tiket bagi jemaah yang ingin hadir. Sorotan kritis ini patut diacungi jempol. Hal itu menandakan semangat mereka untuk menyelami kearifan aktivitas keagamaan.

Berawal dengan pertanyaan yang cukup menggelitik: bukankah penjualan tiket untuk majelis agama sebenarnya mengkomersialisasi ilmu agama?

Bayangkan, ada seorang tokoh agama ternama yang mengadakan kajian di gedung megah. Menjual tiket dengan harga yang mahal, jauh diluar jangkauan masyarakat kebanyakan. Hal ini tentu mengundang kekecewaan dari mereka yang berpendapat bahwa ilmu agama seharusnya mengalir bebas, tak terhalang oleh sekat-sekat finansial. Mereka mempertanyakan apakah mengaji agama harus dikekang oleh uang, serta menduga bahwa para tokoh agama tersebut menjadikan agama sebagai ruang bisnis, ex mencari keuntungan dari penjualan tiket. Apakah hal itu bisa dibenarkan?

Memang, dalam dunia bisnis, tiket untuk majelis keagamaan kerap dipasarkan dengan nama besar seorang tokoh agama sebagai merk/branding, dan ilmu yang mereka bagikan sebagai produk. Sekilas pandang, realitas ini menunjukkan bahwa keuntungan finansial adalah ujung dari segala upaya.

Namun, ketika kita menyelami lebih dalam melalui prinsip hukum Mens Rea, akan menuntut kita untuk menilik niat dan kesadaran dibalik setiap tindakan. Pertanyaan pun muncul: apakah penyelenggara majelis keagamaan ini semata-mata mengincar laba?

Mens Rea atau niat kriminal, adalah konsep hukum yang menyoroti pentingnya memahami motif seseorang dalam menentukan tanggung jawab atas tindakan (kriminal) mereka. Sebagai analogi, ketika seseorang membela diri dari perampokan dan mengakibatkan kematian perampok, apakah dia dianggap sebagai pembunuh? Penilaian apakah mereka dianggap sebagai pembunuh bergantung pada apakah tindakan mereka dapat dianggap wajar dalam keadaan tersebut, dan apa motif di balik tindakan tersebut.

Begitu juga dengan konteks tokoh agama yang menjual tiket untuk majelis atau kajian. Meskipun terdapat unsur jual-beli, belum tentu hal tersebut dianggap menjual ilmu agama. Pemungutan biaya kepada jemaah sering kali digunakan untuk menutupi pengeluaran operasional, seperti sewa tempat dan kebutuhan logistik lainnya. Keputusan ini seringkali ditentukan oleh dorongan untuk menyajikan fasilitas yang lebih mewah dan ruang yang lebih luas, atau bahkan kebutuhan akan dana operasional yang cukup substansial. Lebih tepatnya, hal itu sering kali dipandang sebagai bentuk dukungan untuk kelancaran majelis kajian keagamaan tanpa mengubah esensi atau makna yang terkandung dalam majelis tersebut.

Apabila harga tiket dijual dengan harga yang mahal tanpa fasilitas yang sepadan, itu menunjukkan motif komersial yang mendominasi. Namun, jika harga tiket mencerminkan biaya penyelenggaraan acara dan memberikan fasilitas yang sesuai, itu menandakan upaya sungguh-sungguh untuk memastikan kualitas dan kenyamanan jemaah.

Kebanyakan majelis atau kajian yang memungut biaya tiket seringkali dipentaskan dalam panggung megah di ballroom hotel mewah, memanjakan para jemaah dengan santapan (suguhan) istimewa, kadangkala mereka juga menerima merchandise berkelas sebagai kenang-kenangan.

Memang, semakin kompleks dan beragam kebutuhan masyarakat modern, membuat adaptasi dalam menyebarkan ilmu agama menjadi suatu keharusan. Kajian agama yang diselenggarakan dengan biaya tiket pun sebenarnya dapat dianggap sebagai sebuah langkah untuk menjangkau khalayak yang lebih luas, dengan menyediakan fasilitas dan pengalaman yang lebih terstruktur.

Ketika jemaah membeli tiket, mereka tidak sekadar membayar untuk duduk dan mendengarkan kajian. Mereka menginvestasikan uang mereka untuk sebuah pengalaman, dimana ilmu dan pengalaman spiritual disajikan dalam balutan kenyamanan. Kita harus jujur untuk mengakui bahwa ada kalangan yang menikmati dan mendambakan pengalaman semacam ini.

Di majelis atau kajian itu, hadirnya jemaah punya ragam latar belakang sosial. Ada momen di ballroom hotel untuk menjangkau mereka yang absen (tidak sempat hadir) di majelis rutin. Inilah wujud adaptasi yang menunjukkan fleksibilitas dakwah dalam merangkul semua kelompok masyarakat untuk menyentuh semua kalangan. Meskipun ada yang memungut biaya untuk kajian tertentu, kebanyakan tokoh agama juga tetap setia memberikan ceramah secara cuma-cuma di tempat lain.

Oleh karena itu, tuduhan komersialisasi sepertinya kurang pantas, terutama karena acara berbayar hanya terjadi sekali-sekali, sementara acara gratis tetap tersedia secara berkala. Ini menegaskan bahwa para tokoh agama tidak hanya mengandalkan penjualan tiket kajian sebagai sumber utama pendapatan.

Seiring dengan itu, semakin sirnalah prasangka bahwa penjualan tiket untuk majelis atau kajian semata-mata demi keuntungan. Meskipun ada yang berpendapat kalau penjualan tiket untuk majelis atau kajian bisa mengurangi nilai kesucian ilmu. Namun, kita juga tidak bisa mengabaikan fakta bahwa di balik biaya yang dikenakan, terdapat kerja keras dan dedikasi dari para pendidik dan pembawa ilmu untuk menyusun materi yang bermanfaat dan mendalam bagi para jemaah.

Pepatah bijak dari Sayyidina Ali, sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW, menyiratkan penghormatan mendalam terhadap ilmu. Dikisahkan, Sayyidina Ali rela menjadi hamba bagi siapa pun yang mengajarkannya, meskipun hanya satu huruf yang ia terima. Penghormatan ini mencerminkan betapa tinggi kedudukan ilmu dalam pandangannya dan betapa besar rasa hormat yang harus ia berikan kepada para pengajar.

Kewajiban kita adalah menghargai para guru. Sementara keikhlasan mereka dalam mengajar adalah ranah pribadi mereka sendiri. Dengan memberikan dukungan dan apresiasi yang pantas, kita dapat memperkuat semangat mereka dalam memberikan manfaat bagi masyarakat. Kita harus melihat lebih jauh dari sekadar biaya tiket.

Ilmu agama memiliki nilai yang sangat tinggi, dan fokus utamanya seharusnya terhadap pada bagaimana ilmu tersebut disampaikan dan bagaimana dakwah dapat merangkul semua lapisan masyarakat. Dengan begitu, kita dapat mengapresiasi nilai sejati dari ilmu agama tanpa harus terjebak dalam pertimbangan finansial semata.

Wallahu a’lam

***

*) Oleh: Nadia - Mahasiswi Program Studi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

*) Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi anonapers.com

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: redaksianona@gmail.com

**) Redaksi berhak tidak menayangkan kiriman tulisan yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi ANONA Pers.