Filosofi Pernikahan Ala KH Kholil Yasin Bangkalan

 

Orang madura memiliki nilai-nilai yang sangat penting ketika melaksanakan pernikahan.

Pernikahan adalah momen yang sangat istimewa dalam kehidupan manusia. Dalam Islam, pernikahan dianggap sebagai ikatan suci antara dua individu yang saling melengkapi, saling mencintai, dan berkomitmen untuk membentuk keluarga yang penuh kasih sayang.

Namun, kali ini saya tidak akan membahas pernikahan dalam sudut pandangan Islam. Ada filosofi pernikahan yang tidak kalah menarik yang disampaikan oleh KH Kholil Yasin. Beliau adalah sosok penceramah kondang yang berasal dari Kabupaten Bangkalan, Madura.

KH Kholil Yasin adalah sosok penceramah masa kini yang muatan ceramahnya sangat mudah diterima oleh semua kalangan yang hadir di setiap acara yang mengundangnya. Mulai dari kalangan anak-anak, remaja, hingga orang tua bisa menerima penyampainnya dengan baik. Hal itu dikarenakan kepiawaian beliau yang tidak hanya menyampaikan isi ceramahnya dengan cara yang monoton, tapi sesekali diimbangi dengan cara menyanyi dan candaan yang membuat para audiennya tertawa terbahak-bahak.

Dari hampir keseluruhan video ceramahnya yang selalu viral di media sosial terutama tiktok, ada satu potongan video yang tidak kalah menarik untuk dibahas mengenai pernikahan. Beliau menyampaikan isi ceramahnya berkenaan dengan filosofi pernikahan ala orang Madura. Menurutnya, orang madura memiliki nilai-nilai yang sangat penting ketika melaksanakan pernikahan.

Filosofi Pernikahan Orang Madura Dilihat dari Khas Makanannya

Sepasang pengantin dalam masyarakat madura dikenal dengan nama Mantan. Ingat ya, mantan tapi bukan mantan. Jangan sampai salah mengartikan. Mantan disini adalah sepasang orang yang menikah, bukan orang yang putus hubungan seperti yang biasanya dialami oleh anak-anak muda sekarang.

Dalam tradisi masyarakat Madura, setiap ada lamaran atau pernikahan tidak akan terlepas dari beberapa kue atau makanan yang diberikan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Diantaranya adalah tettel, ketan (palotan), wajik (bejhik), dodol (dhudhul), dan pisang (gheddheng).

Dinamai mantan, menurut KH Kholil Yasin dikarenakan pada tradisi masyarakat Madura selalu ada nilai filosofis tersendiri. Mantan berasal dari dua suku kata "e man-oman ben palotan". Hal itu menunjukkan arti mendalam bagaimana kedua belah pihak diharuskan menjaga kerukunan dan kekeluargaan dengan baik. Disisi lain, menantu dalam keseharian masyarakat Madura disebut dengan "Manto". Manto juga merupakan bagian dari dua suku kata "manyaman nak poto". Hal ini menunjukkan bahwa dengan pernikahan, maka dunia bisa dicapai dengan baik, segala kenikmatan duniawi bisa digapai dengan cara hidup bersama dalam ikatan pernikahan.

Ada makanan/kue madura yang bernama tettel (cuka saya belum tahu apa nama bahasa Indonesia kue ini). Tettel menjadi salah satu makanan/kue yang wajib diserahkan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Menurut KH Kholil Yasin, kue tettel tidak lain sebagai bentuk usaha dua keluarga untuk saling menyatu dalam keharmonisan yang penuh kehangatan. Kenapa? Karena sebenarnya dari kue tettel ini ada dua kata gabungan yakni "rapet ben abhuntel". Dua kata ini dalam bahasa Indonesianya dapat diartikan kedua pihak keluarga yang semakin kuat ikatannya dengan perantara pernikahan putra-putrinya.

Makanan/kue lainnya adalah palotan. Sebenarnya palotan ini adalah sebutan lain dari beras ketan sebagaimana yang sudah disebutkan diatas. Hanya saja biasanya ada berbagai macam kue yang bahan utamanya adalah beras ketan. Palotan menjadi salah satu makanan/kue wajib dikarenakan filosofisnya yang sangat penting untuk dijadikan pedoman pernikahan. Menurut KH Kholil Yasin, kenapa perlu palotan, diharapkan semakin "atoktok, ataretan".

Atoktok ataretan secara sederhana dapat diartikan sebagai upaya bersama (kedua keluarga dan sepasang pengantin) untuk memperkuat "taretan" atau persaudaraan atau kekeluargaan. Dengan bersatunya dua keluarga diharapkan menjadi salah satu bentuk bagaimana ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariah bisa semakin erat dalam sebuah masyarakat secara luas.

Menuju pernikahan yang diharapkan baik dalam sudut pandang agama maupun sosial kemasyarakatan, masyarakat madura memandang perlu adanya kue bhejik (wajik). Kue bhejik adalah simbol dari usaha bersama menuju keluarga yang harmonis. Kenapa? Alasannya diungkapkan oleh KH Kholil Yasin bahwa dari kue bhejik diperoleh pelajaran biar dua keluarga yang baru bersatu tidak mudah "aobe ben ngejjhit."

Menyatukan dua keluarga dan dua orang menjadi sepasang kekasih dalam ikatan pernikahan, tentu tidak mudah yang dibayangkan oleh banyak orang, tidak seindah yang dipikirkan anak muda terutama sewaktu masih pacaran. Dua keluarga yang memiliki latar belakang yang berbeda, lalu dipertemukan dan disatukan tentu perlu waktu yang tidak singkat untuk bertahan dan saling mengalah ketika ada pemikiran dan keinginan yang berbeda.

Maka perlu nilai filosofis (seperti yang terkandung dalam kue bhejik, yakni tidak mudah aobe ben ngejjhit) biar kedua keluarga tersebut mampu saling meredam egonya masing-masing, bertahan disegala kondisi, mengalah untuk menjaga persatuan, dan terus menerus saling memahami satu sama lain. Jika ada perdebatan atau pertikaian, sudah seharusnya dapat diselesaikan dengan kepala dingin, duduk bersama, bicara baik-baik, bukan malah saling ngelunjak dan menyalahkan.

Dhudhul (dodol) ternyata tidak hanya terkenal sebagai khas Garut Jawa Barat. Namun, kue ini juga menjadi salah satu kue penting dalam masyarakat Madura terutama di acara pernikahan. Dhudhul dalam penyampaian KH Kholil Yasin adalah icon biar dua pasang kekasih tidak suka "dhungaddhu ben mamadhul". Dua kata itu bisa dipahami terutama yang ditekankan adalah kepada dua pengantin baru supaya tidak mudah melaporkan setiap pertikaian atau perbedaan pendapat diantara keduanya kepada orang tuanya masing-masing. Apalagi sampai diketahui oleh tetangga.

Setiap masalah perlu diselesaikan oleh keduanya. Sebisa mungkin tidak melibatkan orang tua masing-masing untuk menghindarkan semakin memanasnya persoalan. Kedua pengantin harus mampu lebih dewasa dalam menghadapi persoalan supaya menemukan jalan keluar terbaik dengan jalan yang ramah bukan jalan yang marah.

Terakhir, adalah membawa geddheng (pisang). Geddheng ternyata berasal dari dua kata "ghed segghed ben dhengaddheng". Dari buah geddheng kita belajar bahwa pohon ini hanya hidup dan berbuah sekali lalu mati (ditebang). Sekalipun tidak ditebang, tentu pohon pisang tidak akan berbuah lagi jika sudah pernah berbuah. Hal itu dimaksudkan biar sepasang kekasih benar-benar meniatkan pernikahannya untuk bersama dalam hidup sampai mati. Bagi perempuan tidak sampai bersuami lagi, bagi laki-laki tidak sampai beristri lagi. Keduanya harus langgeng sampai maut yang memisahkan, tidak sampai setiap persoalan dijadikan alasan untuk berpisah/bercerai.

Demikian filosofi pernikahan masyarakat Madura menurut KH Kholil Yasin dilihat dari seserahan kue/makanan yang serahkan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Semoga kita mampu menjadi sepasang pengantin yang dirahmati dan diberkahi menuju sakinah, mawaddah, warahmah.

***

*) Oleh: Abdur Rahmad - Pelayannya Para Pelayan Kader

*) Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi anonapers.com

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: redaksianona@gmail.com

**) Redaksi berhak tidak menayangkan kiriman tulisan yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi ANONA Pers.