![]() |
| Nur Hasanah, Graduate of Nurul Jadid University with a Degree on English Education |
Pertama, watak psikologis yang merupakan pondasi sikap
sentimental dan sebagai bentuk ide yang membangun hubungan social dengan
berbagai kelompok manusia (keluarga, suku dan lainnya). Kedua, fenomena
politik yaitu berhubungan dengan perjuangan memperebutkan kekuasaan dan
kedaulatan yang melahirkan imperium, dinasti dan Negara.
Dan ketiga, fenomena ekonomi yang
berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi baik pada tingkat individu,
keluarga, masyarakat maupun Negara. Dalam hal ini konflik yang melatarbekangi
antara palestina dan Israel merupakan perebutan kekuasaan yaitu sengketa
wilayah atau disebut sebagai fenomena
politik yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun.
Seperti yang kita ketahui bahwa serangan
demi serangan yang dilakukan oleh Israel merupakan tindakan krisis kemanusiaan
terhadap Palestina. Israel telah melakukan pengepungan, penindasan dan
penganiayaan kepada wilayah tersebut. PBB
telah mencanangkan bahwa Gaza menjadi tempat yang tidak dapat dihuni karena
adanya serangan Israel yang tak kunjung berhenti dan telah menewaskan kurang
lebih 25.000 jiwa.
Dampak dari serangan tersebut menyebabkan
kehancuran yang sangat besar pada infrastruktur dan ekonomi Gaza. Mulai dari
tempat tinggal, tempat pendidikan, rumah sakit, cadangan makanan, obat-obatam
hingga krisis air bersih. Hal ini masih menjadi atensi dan sorotan seluruh publik untuk memberikan
dukungan terhadap palestina.
Palestina mempunyai sebuah oragnisasi
bernama HAMAS (Harakatul Muqowwamah Al-Islamiyah) yang artinya Gerakan perlawanan
Islam, akan tetapi dilabelisasi sebagai teroris oleh kelompok zionis.
Realitasnya, publik dikejutkan oleh
seorang ibu dari Israel yang menuliskan sebuah surat untuk HAMAS yang didalamnya berisi ungkapan
terimakasih atas seluruh perlakuan baik terhadap anaknya yang bernama Emilia.
Tentu, insiden tersebut mengejutkan dan menggetarkan dunia karena Emilia
disandera selama 49 hari di Gaza oleh HAMAS namun diperlakukan dengan sangat
baik .
Menilik fenomena tindakan moral tersebut Immanuel
Kant yang merupakan seorang filsuf kondang asal jerman pada abad ke-18
mengembangkan sudut pandangnya tentang etika dalam sebuah karyanya yang
berjudul “Dasar-Dasar Metafisika Moral” (Groundwork Of The Metaphysics Of
Moral) yang diterbitkan pada tahun 1785.
Menurut Kant, seseorang harus bertindak
sesuai dengan “imperative kategoris” yang menyatakan bahwa setiap tindakan
harus mempunyai prinsip universal yang dapat diterima oleh semua orang. Dengan
kata lain harus bertindak berdasarkan prinsip-prinsip yang dapat diterima
secara moral oleh manusia. Ia juga menegaskan bahwa satu-satunya hal yang baik
tanpa syarat adalah kehendak untuk berbuat baik (Good Will).
Jadi, Apakah Israel memang pantas untuk
membarantas dan menjajah penduduk palestina? penulis ingin mengantarkan pembaca
kepada ruang lingkup sejarah Israel dengan tujuan agar menemukan sedikit
ilustrasi dan edukasi.
Sebagai generasi milenial ataupun Gen Z
yang notabenenya merupakan generasi yang lebih aware terhadap isu-isu publik,
maka dalam hal ini perlu adanya pengkajian secara komprehensif dan substantif untuk
memberikan resolusi terbaik terhadap konflik palestina dan Israel.
SEKILAS TENTANG ISRAEL MENURUT ALQURAN
Kata Israel merupakan nama julukan yang
diberikan oleh Allah kepada Nabi Ya’qub As yang mana cucu dari Nabi Ibrahim
atau disebut Abraham. Secara etimologi, Israel diambil dari dua suku kata dalam
bahasa ibrani yaitu Yisra’ yang berarti hamba dan ‘el yang merupakan kependekan
dari kata “ Elohim” yang artinya Tuhan.
Dengan demikian arti Israel dalam bahasa
Ibrani adalah seorang yang bergumul atau berhadapan dengan Tuhan. Dan juga
diceritakan bahwa Nabi Ya’qub As. Sering berjalan dimalam hari sehingga
dijuluki sebagai Israel.
Sedangkan Bani Israel adalah keturunan
Israel atau keturunan Nabi Ya’qub. Nabi Ya’qub mempunyai 12 anak yang menjadi
leluhur dari 12 suku Israel. Dalam Al-Kitab Lama (Taurat atau Torah) amak-anak
ini disebutkan sebagai “Twelve Tribes of Israel”. Diantaranya yaitu, Jad,
Naftali, Ashir, Dan, Yahuda, Isakhar, Syam’un, Zebulon, Lewi, Ru’bin, Bunyamin
dan Yusuf. Dari ke dua belas putra Ya’qub tersebut, hanya yusuflah yang terpilih sebagai Nabi.
Suatu ketika saudara-saudara Yusuf
mempunyai rasa iri terhadap Yusuf karena Yusuf diperlakukan istimewa oleh
ayahnya sehingga mereka ingin menyingkirkan Yusuf. Kemudian, salah satu dari saudaranya
tersebut mempunyai inisiatif untuk membuang Yusuf ke sumur mati.
Setelah saudara-saudara Yusuf minta izin
kepada ayahnya untuk bermain dengan Yusuf diluar, akhirnya mereka berhasil
membuang Yusuf ke dalam sumur mati dan membawa berita kebohongan kepada ayahnya
dengan mengatakan bahwa Yusuf telah meninggal karena dimakan binatang buas.
Watak atau karakter Bani Israel sudah
nampak jelas dari tindakan diskriminatif dan manipulatif tersebut yang mana memberikan sebuah asumsi
bahwa Israel memang mempunyai track record (rekam jejak) yang tidak baik.
Mereka juga sudah banyak membunuh para
Nabi dengan tanpa sebab dan selalu membangkang terhadapa perintah Allah serta
bangsa yang tidak pernah bersyukur. Padahal Allah telah banyak memberikan
karunia atau nikmat-nikmat kepada mereka. Seperti menurunkan hidangan langsung
dari langit, memancarkan 12 sumber mata air, menaungi mereka dengan awan dari
teriknya matahari, menyelamatkan mereka dari kejaran Fira’un dan bala
tentaranya.
Perlu diketahui bahwa Israel sudah hidup
bersama 12 Nabi yang diutus oleh Allah. Selain
Nabi ya’kub, Nabi Yusuf, dan Nabi Musa, nabi-nabi lainnya juga diutus
kepada Israel seperti Nabi Harun, Nabi Ilyas, Nabi Ilyasa, Nabi Yunus, Nabi
Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Zakaria, Nabi Yahya hingga Nabi Isa As.
Disamping itu, tidak semua keturunan
Israel berkarakter kejam, anarkis, dan tidak manusiawi karena terbukti banyak
juga Nabi yang lahir dari Bani Israel. Salah satunya adalah Nabi Musa As.
Pada awalnya, Nabi Musa As. dan Nabi
Harun As. beserta kaum Bani Israel berjalan ditengah gurun pasir yang sangat
luas. Mereka diperintah oleh Allah untuk memasuki Baitul Maqdis atau Palestina
akan tetapi mereka enggan untuk masuk karena sikap takut dan pengecut yang
sudah melekat. Mereka takut karena disekitar pintu gerbang Palestina dikuasai
oleh empat suku yang kuat, yaitu Kan’aniyun, Amariah, Yubasiah dan Finikiah. Sebagaimana
yang telah tercantum dalam QS. Al-Maidah ayat 21:
“Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci
(Baitul Maqdis) yang telah Allah tentukan bagimu dan janganlah kamu berbalik
kebelakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu akan menjadi orang orang
yang rugi.”
Menurut riwayat Ibnu ‘Asakir dari Mu’az
bin Jabal bahwa tanah itu disebut suci karena telah sekian banyak Nabi
menempatinya yang senantiasa mengajak Tauhid, oleh sebab itu tanah itu bersih
dari patung-patung dan kepecayaan yang sesat. Jika mereka tidak mematuhi
ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah, mereka akan rugi karena
nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada mereka itu akan dicabut kembali. Dalam
surah Al-A’raf Ayat 137 juga dijelaskan sebagai berikut:
“Kami wariskan kepada kaum yang selalu
tertindas itu, bumi bagian timur dan baratnya yang telah kami berkahi. Dengan
demikian telah sempurna firman Tuhanmu yang baik itu (sebagai janji) untuk Bani
Israel disebabkan kesabaran mereka. Kami hancurkan apapun yang telah dibuat
Fir’aun dan kaumnya serta apapun yang telah mereka bangun.”
Ayat tersebut menjelaskan bahwa tanah
palestina dianggap tanah yang diberkati. Ini digambarkan oleh kisah Nabi Musa
dan pengikutnya yang melarikan diri dari Fir’aun dan pasukannya. Ketika mereka
tiba ditanah Palestina, Allah memberikan pertolongan dengan menghancurkan
Fir’aun dan pasukannya serta menyelematkan Nabi Musa As. Kemudian dalam surat Al-Maidah
ayat 24 berbunyi:
“Mereka berkata. “Wahai Musa,
sesungguhnya kami sampai kapanpun tidak akan memasukinya selama mereka masih
ada didalamnya. Oleh karena itu, pergilah engkau bersama Tuhanmu, Lalu
berperanglah kamu berdua. Sesungguhnya kami tetap berada disini saja.”
Dari penjelasan ayat Al-Quran diatas
sudah cukup jelas bahwa mereka Bani Israel adalah pendatang bukan pribumi. Mereka
adalah kaum yang terlontang-lantung hingga pada akhirnya atas sifat Rahman-Rahim
Allah mereka diperintah ketempat yang lebih aman serta terhindar dari kesesatan
dan kemusyrikan. Namun, Israel tetap tidak mengindahkan perintah Allah akibatnya
mereka tercerai berai ke seluruh penjuru dunia.
KISAH ISRAEL MENURUT QURAISH SHIHAB
Dilansir dari laman Nu.or.id Quraish
Shihab menjelaskan bahwa pada Perang Dunia I (1914-1918), terjadi peperangan
antara Inggris, Amerika dan sekutunya melawan kesultanan Ustmaniyah.
Ketika itu Menteri Luar Negeri Inggris
berjanji bahwa pihaknya akan memberikan orang-orang Yahudi suatu Negara, agar
mereka bisa membina Negara tersebut dan orang-orang yahudi yang terpencar
dimana-dimana itu menyatu disana.
Diusulkanlah tiga tempat, ada yang
berkata empat tempat. Yang pertama, Argentina. Yang kedua, Uganda. Yang ketiga,
Palestina. Ada yang berkata juga Afrika selatan. Orang-orang Yahudi memilih
Palestina. Lalu mereka mencari dalih keagamaan.
Ditemukanlah didalam perjanjian lama,
bahwa Tuhan menjanjikan untuk orang Yahudi itu negeri leluhur mereka yaitu
palestina yang mana dahulu pernah berkuasa Nabi Sulaiman dan Nabi Daud.
Meskipun demikian, semestinya orang Arab
pun mempunyai hak atas tanah Palestina karena diketahui bahwa negeri yang
dijanjikan oleh Allah diperuntukkan kepada anak cucu Nabi Ibrahim.
Dalam perang Dunia I itu, lanjutnya,
Inggris sekutu menang melawan Kesultanan Ustmaniyah. Hal itu menurut Prof Quraish, memunculkan ambisi negeri Islam
dan Arab. Yordania punya ambisi tanah yang luas sedangkan Mesir mempunyai
Ambisi memimpin negeri-negeri Islam.
Tetapi, sambung Prof Quraish, dalam janji
Inggris itu memberi pesan bahwa mereka harus hidup berdampingan, antara orang
Arab dan orang Yahudi. Namun, kemudian kacau karena Inggris keluar meninggalkan
Palestina dan membiarkan keduanya berkelahi hingga perang.
Prof Quraish melanjutkan, orang Arab pun kalah dalam perang dan diusir dari palestina pada Tahun 1948. Padahal, kata Prof Quraish, ketika itu mayoritas penduduk palestina adalah orang Arab yang mana orang Yahudi baru sekitar 5 persen dari penduduknya. Ketika itu masih belum ada Israel. Adapaun sekarang penduduk Israel sekitar 10 juta tetapi kuat karena mereka dibantu oleh Amerika dan Inggris.
***
*) Oleh: Nur Hasanah, Graduate of Nurul Jadid University with a Degree on English Education
*) Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi anonapers.com
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: redaksianona@gmail.com
**) Redaksi berhak tidak menayangkan kiriman tulisan yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi ANONA Pers.
