Membaca Sejarah Israel Menurut Alquran dan Quraish Shihab

Nur Hasanah, Graduate of Nurul Jadid University with a Degree on English Education

Di setiap konflik peperangan pastinya terdapat implikasi pada beberapa kepentingan. Diantaranya kepentingan politik, agama, wilayah, maupun sejarah. Ibnu Khaldun yang dijuluki sebagai bapak Sosiolog mengemukakan setidaknya ada tiga pilar yang harus diperhatikan.

Pertama, watak psikologis yang merupakan pondasi sikap sentimental dan sebagai bentuk ide yang membangun hubungan social dengan berbagai kelompok manusia (keluarga, suku dan lainnya). Kedua, fenomena politik yaitu berhubungan dengan perjuangan memperebutkan kekuasaan dan kedaulatan yang melahirkan imperium, dinasti dan Negara.

Dan ketiga, fenomena ekonomi yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi baik pada tingkat individu, keluarga, masyarakat maupun Negara. Dalam hal ini konflik yang melatarbekangi antara palestina dan Israel merupakan perebutan kekuasaan yaitu sengketa wilayah  atau disebut sebagai fenomena politik yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun.

Seperti yang kita ketahui bahwa serangan demi serangan yang dilakukan oleh Israel merupakan tindakan krisis kemanusiaan terhadap Palestina. Israel telah melakukan pengepungan, penindasan dan penganiayaan  kepada wilayah tersebut. PBB telah mencanangkan bahwa Gaza menjadi tempat yang tidak dapat dihuni karena adanya serangan Israel yang tak kunjung berhenti dan telah menewaskan kurang lebih 25.000 jiwa.

Dampak dari serangan tersebut menyebabkan kehancuran yang sangat besar pada infrastruktur dan ekonomi Gaza. Mulai dari tempat tinggal, tempat pendidikan, rumah sakit, cadangan makanan, obat-obatam hingga krisis air bersih. Hal ini masih menjadi atensi  dan sorotan seluruh publik untuk memberikan dukungan terhadap palestina.

Palestina mempunyai sebuah oragnisasi bernama HAMAS (Harakatul Muqowwamah Al-Islamiyah) yang artinya Gerakan perlawanan Islam, akan tetapi dilabelisasi sebagai teroris oleh kelompok zionis.

Realitasnya, publik dikejutkan oleh seorang ibu dari Israel yang menuliskan sebuah surat untuk  HAMAS yang didalamnya berisi ungkapan terimakasih atas seluruh perlakuan baik terhadap anaknya yang bernama Emilia. Tentu, insiden tersebut mengejutkan dan menggetarkan dunia karena Emilia disandera selama 49 hari di Gaza oleh HAMAS namun diperlakukan dengan sangat baik .

Menilik fenomena tindakan moral tersebut Immanuel Kant yang merupakan seorang filsuf kondang asal jerman pada abad ke-18 mengembangkan sudut pandangnya tentang etika dalam sebuah karyanya yang berjudul “Dasar-Dasar Metafisika Moral” (Groundwork Of The Metaphysics Of Moral) yang diterbitkan pada tahun 1785.

Menurut Kant, seseorang harus bertindak sesuai dengan “imperative kategoris” yang menyatakan bahwa setiap tindakan harus mempunyai prinsip universal yang dapat diterima oleh semua orang. Dengan kata lain harus bertindak berdasarkan prinsip-prinsip yang dapat diterima secara moral oleh manusia. Ia juga menegaskan bahwa satu-satunya hal yang baik tanpa syarat adalah kehendak untuk berbuat baik (Good Will).

Jadi, Apakah Israel memang pantas untuk membarantas dan menjajah penduduk palestina? penulis ingin mengantarkan pembaca kepada ruang lingkup sejarah Israel dengan tujuan agar menemukan sedikit ilustrasi dan edukasi.

Sebagai generasi milenial ataupun Gen Z yang notabenenya merupakan generasi yang lebih aware terhadap isu-isu publik, maka dalam hal ini perlu adanya pengkajian secara komprehensif dan substantif untuk memberikan resolusi terbaik terhadap konflik palestina dan Israel.

SEKILAS TENTANG ISRAEL MENURUT ALQURAN

Kata Israel merupakan nama julukan yang diberikan oleh Allah kepada Nabi Ya’qub As yang mana cucu dari Nabi Ibrahim atau disebut Abraham. Secara etimologi, Israel diambil dari dua suku kata dalam bahasa ibrani yaitu Yisra’ yang berarti hamba dan ‘el yang merupakan kependekan dari kata “ Elohim” yang artinya Tuhan.

Dengan demikian arti Israel dalam bahasa Ibrani adalah seorang yang bergumul atau berhadapan dengan Tuhan. Dan juga diceritakan bahwa Nabi Ya’qub As. Sering berjalan dimalam hari sehingga dijuluki sebagai Israel.

Sedangkan Bani Israel adalah keturunan Israel atau keturunan Nabi Ya’qub. Nabi Ya’qub mempunyai 12 anak yang menjadi leluhur dari 12 suku Israel. Dalam Al-Kitab Lama (Taurat atau Torah) amak-anak ini disebutkan sebagai “Twelve Tribes of Israel”. Diantaranya yaitu, Jad, Naftali, Ashir, Dan, Yahuda, Isakhar, Syam’un, Zebulon, Lewi, Ru’bin, Bunyamin dan Yusuf. Dari ke dua belas putra Ya’qub tersebut, hanya  yusuflah  yang terpilih sebagai Nabi.

Suatu ketika saudara-saudara Yusuf mempunyai rasa iri terhadap Yusuf karena Yusuf diperlakukan istimewa oleh ayahnya sehingga mereka ingin menyingkirkan Yusuf. Kemudian, salah satu dari saudaranya tersebut mempunyai inisiatif untuk membuang Yusuf  ke sumur mati.

Setelah saudara-saudara Yusuf minta izin kepada ayahnya untuk bermain dengan Yusuf diluar, akhirnya mereka berhasil membuang Yusuf ke dalam sumur mati dan membawa berita kebohongan kepada ayahnya dengan mengatakan bahwa Yusuf telah meninggal karena dimakan binatang buas.

Watak atau karakter Bani Israel sudah nampak jelas dari tindakan diskriminatif dan manipulatif  tersebut yang mana memberikan sebuah asumsi bahwa Israel memang mempunyai track record (rekam jejak) yang tidak baik.

Mereka juga sudah banyak membunuh para Nabi dengan tanpa sebab dan selalu membangkang terhadapa perintah Allah serta bangsa yang tidak pernah bersyukur. Padahal Allah telah banyak memberikan karunia atau nikmat-nikmat kepada mereka. Seperti menurunkan hidangan langsung dari langit, memancarkan 12 sumber mata air, menaungi mereka dengan awan dari teriknya matahari, menyelamatkan mereka dari kejaran Fira’un dan bala tentaranya.

Perlu diketahui bahwa Israel sudah hidup bersama 12 Nabi yang diutus oleh Allah. Selain  Nabi ya’kub, Nabi Yusuf, dan Nabi Musa, nabi-nabi lainnya juga diutus kepada Israel seperti Nabi Harun, Nabi Ilyas, Nabi Ilyasa, Nabi Yunus, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Zakaria, Nabi Yahya hingga Nabi Isa As.

Disamping itu, tidak semua keturunan Israel berkarakter kejam, anarkis, dan tidak manusiawi karena terbukti banyak juga Nabi yang lahir dari Bani Israel. Salah satunya adalah Nabi Musa As.  

Pada awalnya, Nabi Musa As. dan Nabi Harun As. beserta kaum Bani Israel berjalan ditengah gurun pasir yang sangat luas. Mereka diperintah oleh Allah untuk memasuki Baitul Maqdis atau Palestina akan tetapi mereka enggan untuk masuk karena sikap takut dan pengecut yang sudah melekat. Mereka takut karena disekitar pintu gerbang Palestina dikuasai oleh empat suku yang kuat, yaitu Kan’aniyun, Amariah, Yubasiah dan Finikiah. Sebagaimana yang telah tercantum dalam QS. Al-Maidah ayat 21:

“Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Baitul Maqdis) yang telah Allah tentukan bagimu dan janganlah kamu berbalik kebelakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu akan menjadi orang orang yang rugi.”

Menurut riwayat Ibnu ‘Asakir dari Mu’az bin Jabal bahwa tanah itu disebut suci karena telah sekian banyak Nabi menempatinya yang senantiasa mengajak Tauhid, oleh sebab itu tanah itu bersih dari patung-patung dan kepecayaan yang sesat. Jika mereka tidak mematuhi ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah, mereka akan rugi karena nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada mereka itu akan dicabut kembali. Dalam surah Al-A’raf Ayat 137 juga dijelaskan sebagai berikut:

“Kami wariskan kepada kaum yang selalu tertindas itu, bumi bagian timur dan baratnya yang telah kami berkahi. Dengan demikian telah sempurna firman Tuhanmu yang baik itu (sebagai janji) untuk Bani Israel disebabkan kesabaran mereka. Kami hancurkan apapun yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya serta apapun yang telah mereka bangun.”

Ayat tersebut menjelaskan bahwa tanah palestina dianggap tanah yang diberkati. Ini digambarkan oleh kisah Nabi Musa dan pengikutnya yang melarikan diri dari Fir’aun dan pasukannya. Ketika mereka tiba ditanah Palestina, Allah memberikan pertolongan dengan menghancurkan Fir’aun dan pasukannya serta menyelematkan Nabi Musa As. Kemudian dalam surat Al-Maidah ayat 24 berbunyi:

“Mereka berkata. “Wahai Musa, sesungguhnya kami sampai kapanpun tidak akan memasukinya selama mereka masih ada didalamnya. Oleh karena itu, pergilah engkau bersama Tuhanmu, Lalu berperanglah kamu berdua. Sesungguhnya kami tetap berada disini saja.”

Dari penjelasan ayat Al-Quran diatas sudah cukup jelas bahwa mereka Bani Israel adalah pendatang bukan pribumi. Mereka adalah kaum yang terlontang-lantung hingga pada akhirnya atas sifat Rahman-Rahim Allah mereka diperintah ketempat yang lebih aman serta terhindar dari kesesatan dan kemusyrikan. Namun, Israel tetap tidak mengindahkan perintah Allah akibatnya mereka tercerai berai ke seluruh penjuru dunia.

KISAH ISRAEL MENURUT QURAISH SHIHAB

Dilansir dari laman Nu.or.id Quraish Shihab menjelaskan bahwa pada Perang Dunia I (1914-1918), terjadi peperangan antara Inggris, Amerika dan sekutunya melawan kesultanan Ustmaniyah.

Ketika itu Menteri Luar Negeri Inggris berjanji bahwa pihaknya akan memberikan orang-orang Yahudi suatu Negara, agar mereka bisa membina Negara tersebut dan orang-orang yahudi yang terpencar dimana-dimana itu menyatu disana.

Diusulkanlah tiga tempat, ada yang berkata empat tempat. Yang pertama, Argentina. Yang kedua, Uganda. Yang ketiga, Palestina. Ada yang berkata juga Afrika selatan. Orang-orang Yahudi memilih Palestina. Lalu mereka mencari dalih keagamaan.

Ditemukanlah didalam perjanjian lama, bahwa Tuhan menjanjikan untuk orang Yahudi itu negeri leluhur mereka yaitu palestina yang mana dahulu pernah berkuasa Nabi Sulaiman dan Nabi Daud.

Meskipun demikian, semestinya orang Arab pun mempunyai hak atas tanah Palestina karena diketahui bahwa negeri yang dijanjikan oleh Allah diperuntukkan kepada anak cucu  Nabi Ibrahim.

Dalam perang Dunia I itu, lanjutnya, Inggris sekutu menang melawan Kesultanan Ustmaniyah. Hal itu menurut  Prof Quraish, memunculkan ambisi negeri Islam dan Arab. Yordania punya ambisi tanah yang luas sedangkan Mesir mempunyai Ambisi memimpin negeri-negeri Islam.

Tetapi, sambung Prof Quraish, dalam janji Inggris itu memberi pesan bahwa mereka harus hidup berdampingan, antara orang Arab dan orang Yahudi. Namun, kemudian kacau karena Inggris keluar meninggalkan Palestina dan membiarkan keduanya berkelahi hingga perang.

Prof Quraish melanjutkan, orang Arab pun kalah dalam perang dan diusir dari palestina pada Tahun 1948. Padahal, kata Prof Quraish, ketika itu mayoritas penduduk palestina adalah orang Arab yang mana orang Yahudi baru sekitar 5 persen dari penduduknya. Ketika itu masih belum ada Israel. Adapaun sekarang penduduk Israel sekitar 10 juta tetapi kuat karena mereka dibantu oleh Amerika dan Inggris.

***

*) Oleh: Nur Hasanah, Graduate of Nurul Jadid University with a Degree on English Education

*) Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi anonapers.com

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: redaksianona@gmail.com

**) Redaksi berhak tidak menayangkan kiriman tulisan yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi ANONA Pers.