![]() |
| Dokumentasi nuruljadid.net |
Imam
Az-Zarnuji dikenal sebagai ahli gubahan karya terkenal di lingkungan pesantren,
yaitu Ta'lim Muta'allim. Bahkan, kitab ini menjadi pedoman utama bagi para
santri. Namun, reputasinya tidak setenar kitab yang ditulisnya.
Hal ini
karena identitasnya tidak diketahui secara pasti sehingga menimbulkan perbedaan
pendapat di kalangan ulama ketika diberikan nama lengkap Syekh az-Zarnuji. Kelahiran
Az-Zarnuji belum diketahui secara detail, tetapi ada perbedaan pendapat
mengenai tanggal wafatnya. Ada yang berpendapat beliau meninggal pada tahun 591
H/1195 M. dan ada yang mengatakan dia meninggal sementara yang lain mengatakan
dia meninggal pada tahun 610 H. Dia tinggal bersama Ridho al-Din Naisabur
antara tahun 500 dan 600 H.
Kurang
banyak mengetahui informasi yang jelas tentang tempat kelahirannya. Secara
implisit dalam kitabnya, Syekh azZarnuji tidak menyebutkan tempat tinggalnya,
tetapi umumnya beliau hidup pada akhir masa Abbasiyah. Sebab khalifah Abbasiyah
terakhir adalah al-Mu'tashim (wafat 1258 M/656 H).
Tetapi
karena kekerabatannya, ia berasal dari Zarnuj, sebuah negara di tepi sungai
Tigris (ma wara'a alnahr) yang merupakan bagian dari wilayah Irak. Namun ada
juga orang yang mengatakan bahwa kota Zarnuj di peta sekarang menjadi milik
Turkistan (sekarang Afganistan) karena kota tersebut dekat dengan kota
Khoujanda.
Kiat
Sukses Berpendidikan Menurut Syekh az-Zarnuji
Dalam
proses berpendidikan, setiap orang mempunyai rujukan masing-masing berkenaan
dengan kiat atau kunci suksesnya. Ada sekian banyak pedoman sukses yang tersaji
untuk berhasil dalam menjalankan proses pendidikan.
Salah
satu tokoh yang ikut serta memberikan kiat-kiatnya adalah Syekh az-Zarnuji.
Beliau mengatakannya seperti berikut:
يحتاج في التعلم و التفقه إلى جد الثلاثة: المتعلم و
الأستاذ و الأب إن كان في الأحياء
“Dalam proses menuntut ilmu dan mendalaminya, dibutuhkan kesungguhan dari
tiga pihak: murid, guru, dan orang tua jika masih hidup.” (Syaikh
Burhanuddin z-Zarnuji, Ta’lim al-Muta’allim).
Untuk
pertama kalinya, penulis mendengar penjelasan demikian dari Kiai Ainul Haq,
salah satu kiai muda Pesantren Annuqayah. Beliau dalam suatu kesempatan
tersebut mengatakan bahwa jika salah satu atau salah duanya tidak terpenuhi,
jangan diharapkan akan berhasil secara maksimal.
Pertama, murid. Menurut penjelasan Kiai Ainul, aspek pertama
ini harus menjadi pondasi kuat, yang mana setiap pribadi murid wajib memiliki
keinginan kuat untuk terus belajar. Kesungguhannya dalam berpendidikan mesti
meliputi aktivitas adab berupa khidmat (khususnya kepada ilmu dan guru). Dalam
berkhidmat kepada ilmu dapat berupa: mendengarkan dan memperhatikan, memahami
dan merenungi, menghafal, mengulang-ulang, bertanya, berdiskusi, mengamalkan,
dan mengajarkan.
Bentuk
kesungguhan lain juga harus berupa proses menempa diri menjadi insan beradab
dan seorang pembelajar yang tangguh. Dalam hal ini adalah orang yang menjadikan
tradisi keilmuan sebagai hal yang utama dengan tidak melupakan adab atau soft
skill lainnya. Di antara soft skill terpenting adalah critical
thinking, creativity, communication (berbicara ataupun menulis), collaboration.
Kedua, guru. Kesungguhannya bukan sekadar datang ke sekolah
kemudian mengharapkan uang, gaji, sertifikasi, dan berbagai macam materi
lainnya. Bukan orang yang datang ke sekolah sekadar mengajar, tanpa sedikit pun
memperhatikan dan masuk ke ruang lingkup murid, apalagi sampai tidak peduli
benar-salah dan baik-buruknya akhlak murid.
Kesungguhannya
harus meliputi aspek mendidik (menanamkan nilai/adab) dan mengajar (transfer
ilmu). Perannya bukan sebagai pekerja, melainkan seorang mujahid intelektual.
Sehingga lahirlah sosok guru teladan yang ikhlas dan senang berkorban demi
kepentingan adab dan ilmu muridnya. Sebab, “Jangan berharap bayangan
suatu benda akan lurus, jikalau faktanya, benda tersebut bengkok,” ujar
Imam Ghazali dalam Ihya’-nya.
Guru
seperti inilah yang menurut M. Natsir dalam Capita Selecta-nya
menjadi tolok ukur maju-tidaknya suatu bangsa. Guru seperti inilah yang ruhnya
dikatakan dalam ungkapan Arab terkenal, lebih baik dari materi, metode bahkan
dirinya sendiri. Dan guru seperti inilah yang menurut Dr. Adian Husaini dalam
buku Pendidikan Islam-nya menjadi faktor terkuat lahirnya empat
generasi gemilang: sahabat, Shalahuddin, Muhammad al-Fatih dan santri 1945
(ketika mempertahankan kemerdekaan dari serangan tentara sekutu, Belanda dan
Inggris). Ialah asas bangkitnya peradaban.
Ketiga, orang tua. Kesungguhannya tidak hanya meliputi
dukungan materi si anak seperti SPP bulanan dan uang jajan. Yang terpenting
justru dukungan keilmuan. Di antaranya: pertama, tetap berperan sebagai guru
keluarga. Jika tidak mampu, beralih ke poin kedua, menyerahkan pendidikan anaknya
kepada guru yang ‘alim, baik dan berpengalaman serta mengikhlaskan dan meridhai
apa pun yang dilakukan sang guru kepada anaknya (kecuali kalau tindakannya
sudah di luar batas dan bertentangan dengan
syariat).
Tidak
etis rasanya kalau khidmat murid kepada gurunya ditentang oleh orang tua.
Khidmat bukanlah sarana untuk memperbudak murid, memperalat seseorang,
melainkan sarana bagi si murid untuk naik derajatnya disisi Allah, meraih
hikmah dan keberkahan ilmu melalui ridha guru.
Dr.
Muhammad Ardiansyah dalam buku Catatan Pendidikan-nya
menuliskan, “Salah besar jika ada orang tua yang marah ketika melihat
anaknya menyapu di sekolahnya. Atau membersihkan kamar mandi dan ruang lainnya.
Padahal pelajaran yang didapat dengan khidmah itu terkadang lebih banyak dan
cepat tertanam di hati daripada belajar di kelas, seorang penuntut ilmu tidak
hanya memahami teori ilmu, tetapi juga langsung mengaplikasikan adab ilmu.”
“Ketahuilah
sesungguhnya penuntut ilmu itu tidak akan memperoleh ilmu dan menjadi
bermanfaat ilmunya itu, kecuali dengan memuliakan ilmu, ahlinya, dan memuliakan
guru serta menghormatinya,” ujar
az-Zarnuji dalam Ta’lim-nya.
