Hamzanwadi, Pelopor Pendidikan Modern di Indonesia Timur

TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

Indonesia sebagai Negara yang membentang luas dari sabang sampai merauke memiliki historis panjang dalam perjalanannya. Bermmula dari masa kerajaan hindu budha, kemudian islam muncul dan eksis di daratan Nusantara, hingga datangnya Portugal  dan Belanda untuk memanfaatkan kekayaan bumi Indonesia, lalu lahirlah para mujahid-mujahid perjuangan yang sadar akan penindasan bangsa eropa terhadap masyarakat-masyarakat lokal atau lebih dikenal dengan masyarakat Pribumi.

Sebelum Soekarno memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia, sebelumnya lebih dulu muncul gerakan-gerakan kecil yang diinisiatori oleh para pelajar, Ulama dan Aktipis-aktipis muda Indonesia seperti gerakan Budi Utomo, Muhammadiah dan Nahdlatul Ulama yang sudah sangat eksis di wilayah jawa, Indonesia Wilayah Barat. Sedangkan gerakan-gerakan diluar jawa masih tergolong sedikit, terlebih lagi sulit eksis karena pusat media kala itu masih berpusat di Jawa.

Pulau Lombok kala itu juga yang menjadi wilayah timur indonesia dan bisa tergolong dalam wilayah tertinggal dalam hal pendidikan, karena belum ada figure yang muncul. Saking rendahnya sumber daya manusia yang ada, ada sejarah mencatat bahwa pulau Lombok merupakan anak jajahan dari bali yang dimana bali pada saat itu sedang terjajah oleh belanda.

Namun pada tahun 1934 M, Menjadi titik balik untuk wilayah Indonesia Timur kala itu dengan berdirinya Pesantren Al-Mujahidin sebagai satu-satunya lembaga pendidikan yang dibangun saat itu.  

Tidak butuh waktu lama, dengan atensi dan semangat masyarakat setempat untuk terus maju dan terus berkembang melalui pendidikan, Pesantren Al-Mujahidin dalam kurun waktu dua tahun mampu bertransformasi menjadi Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) yang dimana pada tahun 22 Agustus 1937 madrasah ini diresmikan oleh Maulana Syaikh sebagai satu-satunya madrasah modern dengan kurikulum nasional di wilayah Indonesia bagian timur.

Pada awalnya pendidikan di wilayah Lombok bersifat klasik, dan hanya mengajarkan ilmu-ilmu keislaman saja, seperti belajar mengaji membaca Alquran, fikih keseharian (wudhu, salat, puasa, dan ibadah-ibadah yang berkaitan dengan keseharian masyarakat), serta masih menggunakan system klasik seperti talaqqi dan lembaganya tidak berbadan resmi pemerintah.

Maulana Syaikh Tuan Guru Kiyai Haji M. Zainuddin Abdul Madjid atau familiar dengan laqob Hamzanwadi lahir sebagai salah satu putra terbaik bangsa Indonesia di wilayah timur  yang diberi gelar Sulthon Rinjani dalam waktu singkat berhasil mengubah cara pandang masyarakat saat itu. Dengan kecerdasannya sepanjang pengabdiannya untuk tanah air, berhasil mendirikan ratusan lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai tingkat perguruan tinggi yang tersebar di beberapa penjuru pulau Lombok.

Hamzanwadi lahir dari keluarga yang ternama di pulau Lombok pada tahun 17 Rabiul Awal 1316 H, lahir sebagai anak bungsu dari enam bersaudara, Hamzanwadi kecil lahir dengan nama Muhammad Saggaf. Namun karena kebiasaan masyarakat Lombok yang selalu memberikan nama Jale’an (panggilan) nama saggaf berubah menjadi seggep. 

Lahir dari keluarga ternama tidak membuat Hamzanwadi kecil terlena dengan kekayaan dan nama besar orang tuanya. Melainkan itu menjadi motivasi tersendiri baginya. Sehingga ditambah dengan bimbingan orang tuanya Muhammad Saggaf berhasil menyelesaikan sekolah dasar dan sekolah menengah atas dengan sangat singkat, dan pada usianya yang ke 15 tahun ia langsung melanjutkan study ke tanah suci Makkah.

Selama di Makkah dia menunjukan eksistensinya kepada guru-gurunya sehingga semua guru yang pernah mengajarnya selalu memuji dan memberikan kesan positif terhadapnya. Prestasi demi prestasi dia raih  sehingga banyak tulisan selama belajar di Makkah yang ia tulis dan keluar dengan predikat sangat istimewa.

Keistimewaan prestasi tersebut dibuktikan dengan seluruh nilai yang ia raih selalu tertinggi dan menjadi murid yang satu-satunya ijazahnya ditulis menggunakan tulisan tangan oleh ahli khat arab terkenal yang bernama Al-Khathat Al-Syaikh Dawud Al-Rummani, sesuai arahan Mudir Madrasah Sholatiyah.  

Dengan bekal pengalaman diluar negri tersebut, pada tahun 1933M, Hamzanwadi membangun tanah kelahirannya memlalui jalur pendidikan dengan membangun beberapa sekolah-sekolah di pulau Lombok yang tersentral di desa Pancor, Kabupaten Lombok timur.

Bagaimana ia merintis Pesantren Al-Mujahidin, kemudian bertransformasi menjadi Madrasah NWDI, kemudian tak berselang lama ia kembali membangun sekolah khusus untuk kaum wanita yang diberi nama Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NBDI), yang dimana kedua madrasah ini menjadi dasar yang baik bagi munculnya Madrasah-Madrasah lain di beberapa daerah di Pulau Lombok.

Tak cukup hanya itu, untuk menjaga dan mewadahi madrasah yang sudah ada dan yang akan ada, Maulana Syaikh TGKH. M. Zainuddun Abdul Madjid membangun sebuah organisasi kemasyarakatan yang diberi nama Nahdlatul Wathan (NW). Organisasi Nahdlatul Wathan yang dibangun oleh Maulana Syiaikh tersebut juga berhasil mengubah wajah islam indonesia dengan gerakan-gerakan islam washatiyahnya yang berasas pada faham aliran Ahlusunnah Wal jamaah.

Maulana Syaikh atau Hamzanwadi memiliki karakter yang tidak gampang puas dan tidak cepat putus asa. Beliau pandai mengambil peluang dan Visioner dalam berfikir. Semuanya terbukti dengan karya-karyanya yang masih bisa terlihat sampai sekarang. Mulai dari madrasah-madrasah yang sudah tersebar di beberapa wilayah di Indonesia, gagasan-gagasan keislaman dan kebangsaan serta tulisan-tulisannya yang masih sering didiskusikan ditatanan kemahasiswaan.


***

*) Oleh: Muhammad Hamdani, Alumni IAIH NWDI Pancor dan Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

*) Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi anonapers.com

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: redaksianona@gmail.com

**) Redaksi berhak tidak menayangkan kiriman tulisan yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi ANONA Pers.