Pesan Kiai Zulfa Mustofa di Harlah 75 Ponpes Nurul Jadid

 


KH. ZULFA MUSTOFA adalah Wakil Ketua PBNU dan Pengasuh Majlis Ta'lim Darul Mustofa Tanjung Priok Jakarta Utara. Beliau diundang ke Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton menjadi Muballigh/penceramah I di acara Haul Masyayikh dan Harlah ke-75 PP Nurul Jadid.

Acara ini berlangsung di Halaman utama PP Nurul Jadid pada hari Senin 11 Februari 2024. Dalam kesempatan yang begitu luar biasa ini, ada beberapa pesan atau hikmah yang bisa kita ambil bersama sebagai pelajaran terbaik.

1. Orang yang tidak memiliki sesuatu, maka tidak akan bisa memberi sesuatu (فاقد الشيء لا يعطي)

2. Imam As-Syatibi dalam kitab Muwaffaqat "dulu ilmu di hati para ulama', kemudian bergeser pada kitab" (كان العلم في صدور الرجال، ثم انقل إلى الكتب)

3. Orang yang belajar langsung kepada Ulama/masyayikh, maka kita akan mendapatkan sanad yang baik dan jelas, sedangkan orang yang belajar dari google, tidak akan memilki sanad.

4. Ulama' seperti lebah, makanannya baik dan menghasilkan sesuatu yang baik. Sarang lebah bisa menjadi lilin (penerang bagi sekitarnya), dan madunya bisa menjadi obat (bisa menghilangkan semua kegundahan semua orang)

5. Kiai Zaini merupakan ulama' yang memilki karakter umum ulama' Nahdlatul Ulama.

6. Kiai Zaini tidak hanya ingin mencetak santri yang akram (takwa) saja, namun juga santri yang shalih (bermanfaat bagi orang lain)

7. Kiai Zaini merupakan sosok yang luar biasa karena 100 tahun yang lalu sudah memiliki konsep panca kesadaran yang tetap relevan sampai kapanpun.

8. Santri harus ikut andil dalam politik dengan tetap memang teguh aturan pesantren.

9. Apabila orang-orang baik tidak mau menjadi politisi, maka perpolitikan akan diisi oleh orang-orang yang tidak baik

10. Cara pandang Nahdlatul Ulama itu Dinamis dan Progresif

11. Kiai Zaini dengan Panca Kesadaran Santri ingin mencetak santri yang melangit (kesadaran beragama) dan juga membumi (kesadaran berilmu, kesadaran berorganisasi, kesadaran bermasyarakat, dan kesadaran berbangsa dan bernegara)

12. Manusia adalah makhluk bumi pada satu sisi, dan makhluk langit pada sisi yang lain. Hal ini tersimbol dalam peristiwa isra' mi'raj. 

13. Manusia baru bisa melangit apabila ia bisa membumi (bisa dekat dengan Allah Swt apabila bisa baik kepada yang di bumi) "حبل من الله و حبل من الناس"

14. Tidak semua yang dipelajari di pesantren sama persis dengan yang ada di masyarakat. Santri akan banyak menemukan persoalan yang kompleks.

15. Hidup bermasyarakat harus realistis, tidak boleh terpaku terpaku di tataran idealis

16. Dalam bermasyarakat harus pandai memposisikan masyarakat sesuai dengan kadarnya, termasuk dalam menjelaskan suatu persoalan hukum.

17. Santri harus pandai melakukan analisa sosial

18. Nurul Jadid bisa berkembang dengan baik karena pendiri dan penerusnya bisa bermasyarakat dengan baik, dan diterima dengan baik oleh masyarakat.

Semoga kita mampu mengambil pelajaran, dan mampu meneruskan segala perjuangan yang telah diajarkan oleh para Muassis dan Masyayikh Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Wallahu A'lam