Syahdan, abad kedua belas ternyata menjadi titik balik penting, baik karena legitimasi Al-Ghazali dan sufisme maupun karena pembentukan tarekat-tarekat besar sufi. Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, Al-Ghazali mendirikan salah satu pusat atau jamaah sufi (zawiyah atau ribat atau khanqah dalam bahasa Persia), tempat para pengikut berkumpul untuk hidup dan dididik oleh pembimbing spiritual mereka. Ketika sufisme menjadi sebuah gerakan massal, menyatukan orang dari semua kelas dan latarbelakang pendidikan, zawiyah-zawiyah semisal itu tumbuh pesat dan berkembang biak.
Hingga kemudian sufisme kemudian berubah dari jamaah yang
longgar dan sukarela, menjadi jamaah yang terorganisir atau ordo agama (thariqah)
para fakir atau darwis dalam bahasa Persia dengan lembaga khas mereka
masing-masing. Sebelum zaman ini, sufisme cenderung terkonsentrasi pada
wilayah-wilayah urban (perkotaan) dikalangan elit agama yang berjumpa di
masjid-masjid atau rumah-rumah pribadi. Sementara, sejak abad ketiga belas,
tarekat-tarekat sufi telah menciptakan jaringan zawiyah-zawiyah yang mengubah
sufisme menjadi gerakan massal dan para dai mereka menjadi
misionaris-misionaris Islam utama.
Secara organisasi, tarekat-tarekat sufi dibangun di atas
hubungan, yang telah mapan sebelumnya, antara para syaikh dan murid. Para
syaikh sufi memperoleh otoritas mereka dari para pendahulu termasyhur mereka.
Seperti otoritas hadits yang didasarkan pada sistem mata rantai rawi (isnad)
yang dinisbatkan mundur sampai ke Nabi. Demikian pula sistem mata rantai
(silsilah) para guru pendahulu yang semisal dibangun mundur merujukkan semua
jalan mereka sampai ke Nabi Muhammad.
Silsilah spiritual adalah sumber otoritas agama, ajaran, dan
praktik sang syaikh. Karena kesalehan, reputasi kekramatan, dan seringkali
kekuatan-kekuatan ajaibnya, sang syaikh sering dipandang sebagai wali (kekasih
Tuhan). Syaikh menjadi seorang pembimbing spiritual dan contoh yang harus
ditiru. Para pengikut seringkali ingin dekat dengannya baik untuk memperoleh
manfaat dari ajarannya, sarannya, dan teladannya maupun untuk memperoleh
berkahnya, produk dari kekuatan spiritualnya. Bersama dengan berjalannya waktu,
ajaran sang syaikh diteruskan lewat para muridnya sampai generasi-generasi mendatang.
Zawiyah-zawiyah tasawuf menjadi pusat spiritual,
sosial, dan kultural umat. Zawiyah ini terdiri atas kumpulan sejumlah bangunan,
yang bisa mencakup tempat tinggal sang syaikh dan keluarganya, ruang terpisah
untuk berzikir, kamar-kamar untuk para murid, sebuah masjid, dapur, penginapan
untuk para pengunjung, dan madrasah. Pusatnya adalah tempat tinggal sang
syaikh. Syaikh menjadi imam salat, mengajar dan mendidik, membimbing dan
menyarankan orang per-orang, dan mengawasi kehidupan jamaah. Keanggotaannya ada
dua macam; anggota penuh waktu yang terbaiat dan para anggota jamaah.
Para murid penuh-waktu adalah mereka yang, setelah melewati
suatu masa pendidikan, dikukuhkan menjadi anggota tarekat. Upacara pengukuhan
ini mencakup pelantikan dengan pakaian (khirqa) dan topi khas tarekat tersebut,
yang melambangkan ketaatan kepada aturan tarekat. Baiat (janji setia) kepada
syaikh dan menjabat tangannya, untuk menerima berkah.
Para murid tinggal di dekat zawiyah, mengabdikan diri mereka
untuk belajar, mujahadah (gemblengan spiritual), dan untuk selalu mengikuti
kegiatan-kegiatan zawiyah. Kegiatan-kegiatan dimaksud meliputi: memberi makan
fakir miskin dan orang-orang yang lapar, merawat si sakit, menjamu para
pengunjung (musafir, jamaah haji, dan sufi lain), dan pendidikan agama.
Zawiyah-zawiyah biasanya didirikan dan disubsidi dengan dana wakaf yang
memungkinkan si syaikh dan muridnya untuk menempuh jalan spiritual mereka,
bebas dari pekerjaan dan urusan duniawi.
Sementara, kebanyakan anggota, seringkali mayoritasnya, memiliki
status jamaah, kurang lebih mirip dengan anggota “orde-ketiga” dalam tata agama
Kristen. Para anggota biasa ini “hidup di dunia”, terlibat dalam urusan
sehari-hari seperti membina rumah tangga dan bekerja. Namun demikian, mereka
juga patuh kepada otoritas sang syaikh, meminta petunjuk dan sarannya, terlibat
dalam layanan-layanan umat, dan menjalankan tugas penting menopang kebutuhan
finansial zawiyah dan kegiatannya. Seringkali anggota biasa ini adalah para
tetangga atau bahkan desa-desa di sekitar zawiyah sufi.
Tarekat-tarekat sufi mengembangkan bentuk-bentuk kekuasaan
monastik mereka sendiri yg merinci kewajiban-kewajiban yang mengatur kehidupan
para faqir. Aturan-aturan itu bervariasi dari satu tarekat ke tarekat lain, dan
dari satu wilayah ke wilayah lain. Dalam salah satu aturan awal, kita dapat
menemukan aturan-aturan yang lazim untuk banyak tarekat, semisal: para murid
wajib menjaga kesucian pakaian dan selalu menjaga wudlu’nya. Orang tidak boleh
duduk-duduk di tempat suci untuk mengobrol. Saat maghrib para murid harus salat
istighfar. Kemudian pada saat subuh, ia harus membaca al-Qur’an sampai terbit
matahari. Diantara salat maghrib dan isya, ia harus berzikir dengan wirid
tertentu yang diberikan oleh syaikh kepadanya. Yang terakhir, kaum sufi harus
ramah terhadap orang miskin dan mengurus mereka.
Di bawah pengawasan sang syaikh, para murid menempuh menjalani
kebajikan sufi dan pengetahuan spiritual. Sang syaikh memberi mereka
wirid-wirid untuk zikir dan meditasi, mengevaluasi perkembangan mereka, dan
akhirnya, menguji pengalaman dan makrifat spiritual mereka. Ia menunjuk murid
yang lebih maju sebagai wakilnya, atau khalifah.
Seorang khalifah bisa ditunjuk untuk menggantikan syaikhnya
setelah si syaikh meninggal atau ia dikirim untuk mengepalai salah satu zawiyah
dari tarekat ini. Kekuatan spiritual para syaikh diberikan kepada atau diwarisi
oleh penggantinya. Ketika sebagian tarekat mempertahankan praktik pemilihan
pengganti syaikh, kebanyakan tarekat memilih penggantian turun temurun. Kepemimpinan
tarekat seringkali diberikan kepada anak laki-laki atau kerabat syaikh, untuk
menjaga kendali tarekat di tangan keluarganya.
Titik pusat tarekat sufi adalah makam pendirinya, yang telah
dimuliakan sebagai wali Allah. Makam tersebut menjadi pusat ziarah para
pengunjung yang datang untuk memohon bantuan sang wali. Kekuatan spiritual dan
syafaatnya di hadapan Tuhan dapat dimohon untuk keselamatan kandungan,
kelulusan dalam ujian, kesuksesan bisnis, dan tasyakuran-tasyakuran dibuat
untuk merayakan permohonan yang dikabulkan. Sekali setahun, perayaan besar
diselenggarakan untuk memperingati kelahiran atau kematian. Para peziarah
datang dari dekat dan jauh untuk ritual, pujian-pujian, dan khaul selama
beberapa hari. Wallahu A’lam.
