Membaca Ulang Perempuan dan Keluarga


Keluarga merupakan satuan sosial terkecil dalam kehidupan umat manusia. Dalam bentuk dan strukturnya yang paling mendasar, sebuah keluarga pada umumnya terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak mereka yang biasa tinggal dalam satu rumah, yaitu rumah tangga.

Keluarga sebagai fungsi pembinaan lingkungan ialah salah satu kekuatan yang bisa saja memberikan nilai positif atau negatif dan dapat memberi pengaruh terhadap anggota keluarga dan lingkungannya. Keluarga diharapkan memiliki kemampuan menempatkan diri secara serasi, selaras dan seimbang sesuai dengan kondisi sosial dan budaya masyarakatnya sehingga lahir nilai dan norma-norma agama dan budaya masyatakat.

Keluarga merupakan salah satu pusat pendidikan yang terpenting di mana dalam sebuah keluarga sudah mulai ditanamkan dasar-dasar sikap dan perilaku hidup dan kebiasaan lainnya dalam upaya mempersiapkan anak bagi peranannya di masa yang akan datang, paling tidak mempersiapkan anak agar dapat menjadi anggota masyarakat yang baik. Pada lingkungan keluarga para anak dilatih untuk bagaimana hidup bermasyarakat dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku di masyarakatnya, selama anggota keluarga masih melakukan interaksi dan komunikasi sosial, maka pendidikan dalam keluarga akan terus bergulir. Pola hubungan antar anggota keluarga, pola asuh orang tua kepada anak, perilaku dan keteladanan orang tua dan sebagainya menjadi sebuah aktivitas yang dapat membentuk jati diri anggota keluarga. interaksi hubungan dalam keluarga merupakan bagian dari pendidikan informal di mana keluarga merupakan ruang pertama bagi berlangsungnya edukasi dari orang tua kepada anak. Dapat dikatakan bahwa lingkungan keluarga merupakan penghubung anak dengan kehidupan sosial di masyarakat.

Terdapat dua peran orangtua dalam keluarga, yaitu peran instrumental yang diharapkan dilakukan oleh suami atau bapak dikaitkan dengan peran mencari nafkah untuk kelangsungan hidup seluruh anggota keluarga. Peran ini lebih memfokuskan pada bagaimana keluarga menghadapi situasi eksternal. dan peran emosional atau ekspresif yang biasanya dipegang oleh figur istri atau ibu. Peran pemberi cinta, kelembutan dan kasih sayang. Peran ini bertujuan untuk mengintegrasikan atau menciptakan suasana harmonis dalam keluarga, serta meredam tekanan-tekanan yang terjadi.

Keluarga merupakan salah satu pranata yang dapat memenuhi kebutuhan para anggotanya. Keluarga yang ideal adalah keluarga yang dipenuhi hubungan kasih sayang antar anggotanya yang sangat berperan penting bagi perkembangan kepribadian setiap anggota keluarga terutama anak, anak membutuhkan kehangatan kasih sayang dari orang tuanya utamanya dari ibu karena anak biasanya lebih banyak menghabiskan harinya bersama ibunya. Ayah yang kesehariannya lebih banyak di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga juga merupakan peran yang sangat penting bagi keberlangsungan keluarga, sehinggah dibutuhkan kerja sama dan saling pengertian kepada setiap anggota keluarga agar segala sesuatunya dapat tercapai dengan baik. Tentang patriarki dalam sebuah keluarga, Murtadha Muthahhari memiliki pemahamannya sendiri:

Gerakan perempuan islam merupakan sebuah gerakan “putih” yang sedikitpun tidak ada warna hitam, merah, biru atau ungu. Sikap hormat anak perempuan kepada ayahnya dan sikap hormat istri kepada suaminya tidak dihapus. Fondasi kehidupan keluarga tidak dihancurkan. Islam tidak membuat perempuan memandang hina punya suami, memandang hina menjadi ibu dan memandang hina membesarkan anak.

Perhatian orang tua sangat berpengaruh kepada masalah pembinaan akhlak putra-putrinya selain itu suasana kehidupan keluarga yang harmonis juga memiliki peran yang sangat dominan dalam proses pembentukan karakter dan kepribadian manusia. Dalam perkembangan sains dan teknologi telah timbul masalah besar yang berdampak terhadap retaknya sistemkeluarga yang merupakan bagian terkecil dari masyarakat. Keakraban keluarga mulai memudar, hubungan antara keluarga semakin merenggang. Suami, istri, anak, orang tua, dan sanak saudara masing-masing berjalan dalam keinginan dan kepentingan sendiri-sendiri.

Pentingnya pendidikan diberikan kepada anak ialah sebagai upaya dalam menjaga generasi sejak kecil dari berbagai penyelewengan yang akan terjadi. Dengan berkembangnya sains dan teknologi, terdapat dua dampak yang akan dialami oleh manusia yaitu apakah mereka akan menerima teknologi sebagai bentuk memudahkan gerak dalam setiap aktivitas atau malah akan menjadi alat yang menjauhkan manusia yang satu dengan lainnya, utamanya dalam ranah keluarga. 

Seharusnya dengan perkembangan teknologi dapat menjadi alat atau memudahkan bagi para orang tua dalam melihat berbagai referensi pola pendidikan, memudahkan interaksi antar keluarga jika sedang dalam jarak yang jauh, memudahkan para perempuan dalam bekerja di rumah dan lain sebagainya. Namun sering kali karena teknologi membuat hubungan seseorang menjadi renggang, kehangatan antar keluarga mulai tidak terasa ketika masing-masing anggota keluarga terperangkap dalam penggunaan teknologi yang berlebihan.

Seperti yang biasanya waktu-waktu luang dalam keluarga mungkin dihabiskan di ruang nonton bersama, di meja makan atau bahkan diskusi bertukar pikiran dengan suasana santai hingga terjalin suasana yang damai dan hangat. Itu semua seketika berubah menjadi bayang-bayang yang menjadikannya sebagai kenangan dan mungkin suasana seperti itu akan terjadi dalam waktu yang jarang dan singkat. Perempuan dapat dilihat pengaktualisasian ilmunya ketika ia menjadi perempuan sebagai ibu, perempuan sebagai istri, perempuan sebagai anak dan perempuan di lingkungan masyarakat.

Perempuan sebagai istri

Murtadha Muthahhari tidak membenarkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kehidupan yang terpisah, melaiankan ke duanya hidup secara bersama yang saling melengkapi kelebihan dan kekurangan masing-masing. Islam tidak mengatakan bahwa perempuan diciptakan untuk laki-laki melainkan islam megatakan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan untuk satu sama lain. Sudah seharusnya laki-laki dan perempuan saling bekerja sama dalam berbagai bidang kehidupan, karena ke duanya diciptakan dengan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Perempuan mempunyai pengaruh yang ia miliki atas kehidupan laki-laki, pengaruh ini sungguh nyata dan merefleksikan perhatian perempuan yang memfasilitasi langkah suami untuk meraih kesuksesan dalam bekerja, atau telah mendampingi suaminya saat sedang beristirahat dan bersantai dari banyaknya tuntutan pekerjaan.

Begitu besar peran perempuan sebagai Istri sehingga banyak laki-laki yang sukses karena di belakangnya ada seorang istri yang sangat luar biasa. Banyak pahlawan Indonesia yang juga dibalik kesuksesannya terdapat seorang pendamping yang juga luar biasa. Seperti Ir.Soekarno dengan istrinya ibu Fatmawati dan juga Bapak Habibie dengan istri tercinta ibu Ainun. Dalam tokoh Islamada Ali bin Abi Thalib dengan istrinya yang luar biasa yang dikenal sebagai salah satu penghuni surga yaitu Fatimah Az-zahrah dan Nabi Ibrahim dengan Siti Hajar. dan juga yang tidak kalah luar biasa lagi adalah seorang istri yang melahirkan kehidupan keluarga yang sejahtera dan bahagia.

Perempuan sebagai istri memiliki peran yang sangat penting, istri yang bijaksana dapat menjaga rumah tangganya menjadi tempat yang teduh dan menyenangkan bagi suami, memenuhi kewajibannya terhadap suami dan penuh pengkhidmatan dalam keluarganya. Keberhasilan seorang suami tentunya tidak luput dari peran penting seorang istri. Posisi perempuan sebagai istri merupakan posisi yang terhormat dalam agama islam yang juga islam menjamin kesetaraan antara laki-laki dan perempuan di dalamnya, di mana ke duanya memiliki hak dan kewajiban masing-masing.

Perempuan sebagai Ibu

Manusia dalam dirinya terdapat nama al-Rahman dan al-Rahim, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dalam kehidupan keseharian kita, kedua nama tersebut lebih banyak termanifestasi dalam diri seorang ibu. Sifat yang lebih dominan dalam seorang ibu adalah sifat pengasih dan penyayang kepada keluarga, khususnya kepada anak-anak. Demikian halnya dengan sifat-sifat keindahan lainnya yang hadir di dalam diri kita. Sifat-sifat yang kita miliki adalah manifestasi dari sifat-sifat Ilahi.

Perempuan yang bergelar sebagai ibu dikatakan lebih penyayang dan pengasih karena ibu tidak dapat menyembunyikan perasaannya kepada anaknya sendiri, bahagia dan marah biasanya mereka tampakkan kepada anaknya. Selain itu anatara ibu dan anak biasanya lebih banyak menghabiskan waktu bersama, dalam proses itu mereka bisa saja berbagi cerita, ibu mendidik berdasarkan pengalaman, menasehati anaknya dan tentunya ada banyak yang akan dilakukan ketika ibu dan anak lebih lama bersama sehingga ada ikatan batin yang cukup kuat antar kedunya. Ketika terjadi sesuatu kepada anaknya seorang ibu bisa langsung merasakannya. Namun bukan berarti ayah tidaklah memikiki peran dalam menyayangi anakanaknya. Hanya saja menurut peniliti terdapat cara yang berbeda antara bentuk kasih sayang seorang ayah kepada anaknya dengan sayangnya seorang ibu.

Keibuan merupakan satu titik atau pusat dari seluruh kehidpan perempuan mulai dari masa bayi sampai tua, ia adalah insting alamiah dan fase terbaik di mana perempuan menyandarkan seluruh kekuatan, motivasi dan kemampuan inovasinya.

Bayi tumbuh menjadi anak kecil di mana bahasa pertama yang dipelajarinya adalah bahasa kasih sayang dari sang ibu, perasaan ibu yang lebih sensitif, penuh kasih sayang, murah hati dan berbagai perasaan lainnya. Dalam pangkuannyalah seorang anak untuk pertama kali belajar merasa, berpikir dan berbicara. Anak terus tumbuh, merangkak, berjalan, berdiri dan berjalan sampai pada akhirnya mengupakan bahasa komunikasi. Mengucapkan kata-kata yang tepat, penggunaan anggota badan, dan menyalurkan emosinya didapatkan dari ibunya. Pada ibulah terletak hal kebaikan dan keburukan yang dengan sangat mudah dapat ia letakkan di dalam hati anaknya yang akan mempengaruhi corak kehidupan sang anak di masa mendatang.

Manusia dalam dirinya terdapat nama al-Rahman dan al-Rahim, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dalam kehidupan keseharian kita, kedua nama tersebut lebih banyak termanifestasi dalam diri seorang ibu. Sifat yang lebih dominan dalam seorang ibu adalah sifat pengasih dan penyayang kepada keluarga, khususnya kepada anak-anak. Demikian halnya dengan sifat-sifat keindahan lainnya yang hadir di dalam diri kita. Sifat-sifat yang kita miliki adalah manifestasi dari sifat-sifat Ilahi.

Perempuan yang bergelar sebagai ibu dikatakan lebih penyayang dan pengasih karena ibu tidak dapat menyembunyikan perasaannya kepada anaknya sendiri, bahagia dan marah biasanya mereka tampakkan kepada anaknya. Selain itu anatara ibu dan anak biasanya lebih banyak menghabiskan waktu bersama, dalam proses itu mereka bisa saja berbagi cerita, ibu mendidik berdasarkan pengalaman, menasehati anaknya dan tentunya ada banyak yang akan dilakukan ketika ibu dan anak lebih lama bersama sehingga ada ikatan batin yang cukup kuat antar kedunya. Ketika terjadi sesuatu kepada ankanya seorang ibu bisa langsung merasakannya. Namun bukan berarti ayah tidaklah memikiki peran dalam menyayangi anakanaknya. Hanya saja menurut peniliti terdapat cara yang berbeda antara bentuk kasih sayang seorang ayah kepada anaknya dengan sayangnya seorang ibu.

Ibu bertindak sebagai kepribadian dan kesadaran sang anak. perlahan-lahan anak akhirnya mempelajari keterampilan-keterampilan itu untuk dirinya sendiri dan seiring dengan berkembangnya berbagai keterampilan itu, proses ini berjalan lamban, terorganisir, terus-menerus. Dan bagaimanapun juga, perkembangan diri dan kesadaran anak akan sempurna bila kontak serta hubungan pertamanya dengan orang lain dalam hal ini adalah ibu dan ayahnya berlangsung terus-menerus dan bahagia.

Seorang ibu yang mau mendengarkan apa yang dikemukakan anaknya, menerima pendapatnya dan mampu menciptakan komunikasi secara terbuka dengan anak, dapat mengembangkan perasaan dihargai, diterima dan diakui keberadaannya. Untuk selanjutnya anak akan mengenal apa arti hubungan di antara mereka dan akan mewarnai hubungan anak dengan lingkungannya. Anak akan tahu bagaimana cara menghargai orang lain, tenggang rasa dan komunikasi, sehingga dalam kehidupan dewasanya dia tidak akan mengalami kesulitan dalam bergaul dengan orang lain.

Seorang ibu bukanlah sosok yang lemah dan tidak berdaya, ia adalah salah satu sumber kekuatan dan inspirasi bagi setiap manusia. Ibu adalah sosok yang mengayomi, melindungi, menjaga dan meneduhkan setiap permasalahan yang dihadapi keluarganya. Tugas seorang ibu bukanlah sesuatu yang mudah seperti yang dikatakan orang-orang pada umumnya, ibu adalah lembaga pendidikan yang apabila engkau menyiapkannya berarti engkau telah menyiapkan bangsa yang mempunyai generasi unggul.

Tugas mengurus rumah tangga maupun mendidik anak bukan alasan yang tepat untuk menyuruh perempuan selalu berdiam diri di rumah apalagi menganggap mereka sebagai alat. Murtadha Muthahhari tidak membenarkan jika laki-laki memenjarakan perempuan, dia meyetujui bahwa perempuan dapat bekerja di luar rumah selama tanggung jawab sebagai istri dan ibu telah terpenuhi.

Sosok keibuan merupakan wujud seni yang indah nan abadi. Tugas seorang ibu yang utama ialah mendidik anak, membentuk manusia yang bijak-bijak serta meletakkan landasan-landasan moral dan kemanusiaan dalam rumah tangganya, meciptakan masyrakat yang baik di masa mendatang, memegang kendali masyarakat yang dinamis, serta mengatur keluarga. pekerjaan-pekerjaan macam ini jelas mustahil dilakukan oleh orang-orang yang tidak cerdas.

Perempuan perannya sebagai ibu dan istri sangat diharuskan mempunyai berbagai pengetahuan yang luas dalam menjalani kehidupannya di keluarga nantinya. Kehidupan yang dijalani sebelum dan sesudah menikah tentu sangat berbeda, di dalam sebuah keluarga terdiri dari beberapa orang yang membutuhkan figur seorang ibu khususnya. Sebagai tempat perlindungan dan meminta segala saran dan masukan ketika terjadi sesuatu. Untuk memberikan pemahaman ilmu agama kepada anak-anaknya baik itu yang bersifat teori maupun praktis, mengerti tentang ilmu kesehatan jika kelak menghadapi anaknya yang sakit, mengetahui persoalan etika dan moral agar dapat memberikan pemahaman kepada anaknnya untuk menjadi priadi yang beretika dilingkungan keluarga dan masyarakat dan masih banyak pendidikan lain yang akan menjadi bekal untuk anak-anaknya.

Kualitas perempuan dari segi intelektual dan spiritual pada akhirnya merupakan hal yang sangat penting dan perlu diperhatikan bagi para perempuan, menjadi ibu yang ideal adalah hal perlu dipelajari untuk mampu membangun karakter keluarganya.

Perempuan sebagai anak

Peran seorang anak perempuan ketika belum menikah adalah taat kepada kedua orang tuanya dalam hal kebaikan dan didasarkan oleh perintah Allah Swt. Anak perempuan merupakan sangat istimewa karena anak perempuan yang belum menikah sedang memikul sebuah tanggung jawab dan kehormatan kedua ibu bapaknya kemanapun mereka pergi. Apapun yang mereka lakukan dapat menjadi bahan perhatian baik itu berupa pujian bahkan juga bisa menjadi bahan fitnah jika tidak menjaga dirinya.

Islam adalah agama yang memanusiakan anak perempuan seperti layaknya anak laki-laki. Rasul pun juga mengajarkan para orang tua untuk berlaku adil terhadap anak perempuannya, orang tua hendaknya memberikan pendidikan yang seluas-lusnya kepada mereka, dan juga tidak memaksakan kehendak anaknya.

Seorang anak perempuan memiliki kedudukan yang setara dengan laki-laki. Islam tidak pernah mempermasalahkan kehadiran anak perempuan dalam keluarga muslim. Bahkan Islam mengecam tradisi Arab jahiliyah yang membenci kelahiran anak perempuan atau sikap berlebihan mereka yang mengubur anak perempuan hiduphidup seperti yang dikisahkan dalam sejarah.

Rasul saw. mengajarkan kepada para orangtua agar bertindak adil terhadap anak perempuan, tidak mendominasi dan mendiskriminasi, dan tidak melakukan tindak kekerasan, terutama kekerasan dalam rumah tangga terhadapnya dengan alas an apapun. Orangtua selayaknya memberikan pendidikan yang seluas-luasnya kepada mereka, tidak memaksakan kehendak, terutama dalam pernikahan dan pemilihan jodoh. Perkawinan hendaklah dipahami sebagai kontrak sosial antara dua manusia (laki-laki dan perempuan) yang setara, dilakukan secara sadar, penuh keikhlasan dan kerelaan menuju keridhaan Allah Swt. Anak perempuan memiliki kebebasan sendiri menentukan pasangan hidupnya, dan orangtua cukup memberikan nasihat dan pertimbangan.

Referensi

Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar: Teori dan Konsep Ilmu Sosial (Bandung: Refika Aditama, 1998)

Quraish Shihab, Pengantin Al-Qur’an ( Tanggerang ; Lentera Hati ; 2007)

Ratna Megawangi, Membiarkan Berbeda (Bandung; Mizan: 1999)

Murtadha Muthahhari, Filsafat Perempuan dalam Islam.

Ibnu Mustafa, Wanita Islam Menjelang Tahun 2000, (Bandung: Al-Bayan, 1987)

Qasim Amin, Sejarah penindasan Perempuan, terj: Syaiful Alam, (Yogyakarta: Ircisod 2003)

Muhammad Nur Jabir, Perempuan dalam perspektif tasawuf, (Cet. I; Jakarta: Rumi Pressh, 2019)

Muhammad Utsman Al Husyt, Perbedaan Laki-Laki dan Perempuan, (Jakarta: Cendekia Sentra Muslim 2003