Mengenang Sosok Kiai Hefni Mahfudz Pemangku Wilayah Zaid bin Tsabit Nurul Jadid


Pagi tadi sekira jam 08.57, grup WhatsApp mulai ramai dengan screenshootan story dari kontak KH Najiburrahman Wahid yang memberitahukan bahwa KH Muhammad Hefni Mahfudz meninggal dunia.

KH Muhammad Hefni Mahfudz merupakan pemangku wilayah Zaid bin Tsabit (K) dilingkungan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Beliau juga merupakan pucuk pimpinan alias Direktur Pusat Pengembangan Ilmu dan Alquran (PPIQ) sejak 2001 sampai sekarang.

Antara percaya dan tidak percaya ketika melihat hasil screenshot tersebut, karena saya sulit percaya jika beliau sudah wafat meninggalkan kita semua para santrinya. Namun, tidak ada yang mustahil, apalagi soal umur manusia yang sudah ditakar oleh Allah kapan akan diambil kembali untuk menghadapnya.

Sontak saya mulai ngecek berbagai grup dan ngechat beberapa santri dan alumni yang nyantri langsung di wilayah yang Kiai Hefni ampu. Dari konfirmasi yang saya terima, ternyata memang benar bahwa beliau telah meninggal dunia.

Tidak lama dari itu, kemudian ada pamflet resmi ucapan duka kepada Kiai Hefni dari Instagram @pesantrennuruljadid. Story story WA kemudian mendadak viral video beliau berdurasi 28 detik. Dalam video tersebut beliau menyampaikan bahwa wafatnya ulama’ merupakan hilangnya ilmu. Beliau menukil sebuah maqolah “Khudul ‘ilma qobla ayyadzhaba” yang berarti ambillah ilmu itu sebelum ilmu itu diangkat dan hilang. Dalam penjelasan selanjutnya, beliau mengatakan bahwa hilangnya ilmu itu dengan bidzahami hamalatihi.

Wafatnya ulama’ yang dikuburkan bukan cuma jasadnya, menurut beliau juga sekalian dengan ilmu-ilmunya. Oleh karena itu, beliau berpesan cuma bisa memanfaatkan waktu ketika berkumpul dengan para ‘alim dan fuqoro’. Dan pada hari ini, ulama yang beliau maksud, seorang alim yang beliau katakan, seorang fuqoro’ yang beliau dengungkan tak lain adalah beliau sendiri. Beliaulah yang telah benar-benar meninggalkan kami semua, tapi semoga tidak dengan ilmu dan semangat perjuangannya.

Meskipun saya pernah berada di PP Nurul Jadid, namun saya sangat jarang bahkan dikatakan tidak pernah ngaji langsung kepada beliau. Jadi tulisan yang saya tulis ini mengalir saja bagaikan air di sungai, tidak akan melebihkan apalagi mengurangi apa yang saya pahami soal Kiai Hefni.

Wilayah saya mukim ketika di PP Nurul Jadid berada di kawasan pusat, sedangkan wilayah yang beliau ampu berada di wilayah satelit. Akan tetapi, santri tetaplah santri yang tidak akan membeda-bedakan sosok guru. Meskipun begitu, saya banyak mendengar cerita beliau dan sesekali mengikuti pengajian beliau meskipun secara oline dan melalui pengajian umum.

Saya pribadi benar-benar kagum ketika sering mengikuti pengajian kitab yang diampu beliau pada bulan Ramadan 1444 H. Saya yang berada dirumah hanya bisa menyimak dari streaming youtube berusaha memahami sedikit demi sedikit terhadap apa yang beliau sampaikan. Selain penguasaan dan kedalaman ilmu beliau, saya juga terkagum dengan nada beliau mengajar yang serak-serak basah. Suaranya penuh semangat, lirih, tapi yang terdengar sangat menggelegar bikin merinding.  

Ada catatan yang barusan saya cari di arsip catatan pribadi tentang ngaji kitab. Saya ingat perihal dawuh beliau saat ngaji ilmu tafsir pada 26 Maret 2023. Beliau menukil potongan Surah Ali Imran ayat 173 hasbunal laahu wa ni'malwakiil yang artinya “cukuplah Allah sebagai penolong dan ia sebaik-baik pelindung.”

Penjelasan beliau tentang ayat tersebut adalah bagaimana manusia seharusnya terus-menerus mendekatkan diri kepada Allah SWT. Istikamah memohon pertolongan dan perlindungan kepadanya yang maha agung. Hal itu dijelaskan betapa lemah dan kecilnya manusia yang tidak punya kekuatan apapun tanpa dibantu kekuatan dari Tuhannya.

Jika sudah punya Allah, bisa mengandalkannya, Kiai Hefni menegaskan bahwa akan sangat tidak ada gunanya jika masih bersandar kepada manusia yang tidak jelas arahanya dan sangat tidak meyakinkan. Karena sesungguhnya di dunia ini tidak ada yang akan benar-benar menjadi pembela kecuali (kemungkinan) mereka masih membawa kepentingan.

Pada sebuah kesempatan, Kiai Hefni rawuh pada acara Tahfdzul Quran dan Tahsinul Qiroah Lembaga Pendidikan Ilmu Quran (LPQ) Wilayah Al-Hasyimiyah PP Nurul Jadid. Beliau sebagai sosok yang lemah lembut kepada para santrinya kemudian menyampaikan pentingnya menjaga entitas kesantrian dengan terus belajar dan berkhidmat. Dalam mengarungi kehidupan dunia, tidaklah cukup dengan belajar saja, menurutnya harus juga diimbangi dengan semangat mengajar sebagai bentuk khidmat kepada ilmu dan masyarakat.

Kepada para santrinya, beliau mewanti-wanti bahwa bermalas-malasan adalah contoh dari kelemahan seorang manusia. Terutama kepada para penghafal Alquran, beliau berkeinginan besar supaya mereka terus istikamah dalam melanjutkan hafalannya. Besar harapan beliau jika Alquran benar-benar menjadi petunjuk terhadap setiap langkah dengan cara serius dalam memahami isi yang terkandung didalamnya.

Keteladanan beliau memang tampak dari keistikamahannya dalam melaksanakan kewajiban keseharian tanpa mengenal lelah, kecuali jika ada halangan mendesak yang mengharuskan beliau Meyos (pergi keluar) dari kediamannya. Selagi berada di kediamannya, beliau selalu terlihat istikamah dalam banyak hal, dan tidak berlebihan jika dikatakan seluruh hidupnya dihibahkan untuk membimbing dan mencerdaskan generasi bangsa yakni para santrinya.

Santri Nurul Jadid yang bermukim di Gang K Zaid bin Tsabit tentu tidak heran jika sering melihat keistikamahan beliau dalam mengaji Alquran. Pada sepertiga malam, beliau sering berada di depan kediamannya atau didalam Musala dengan Alquran dipangkuannya. Tanpa kenal lelah dan letih juga, beliau selalu setia menemani santrinya dalam menjalankan proses hafalan Alquran.

Kiai Hefni adalah salah satu bentuk realisasi sebagai manusia pilihan yang dipersiapkan Allah untuk menjadi penghafal Alquran dan penjaga kemurnian kalimat serta bacaannya. Sehingga, jika ada musuh Islam yang berusaha mengubah atau mengganti satu kalimat atau satu kata saja, pasti akan diketahui, sebelum semua itu beredar secara luas di tengah masyarakat muslim.

Alquran sebagai kitab suci yang banyak dihafal oleh umat manusia merupakan salah satu keistimewaannya. Alquran selalu diingat di dalam hati dan selalu diucapkan oleh lisan serta menjadi dzikir bagi para penghafalnya. Garansi dari Allah untuk selalu menjaga dan memelihara Alquran jelas dalam surah al-Hijr ayat 9, sebagai berikut:

Ø¥ِﻧﱠﺎ ï»§َۡﺣُÙ† ï»§َﱠزۡﻟﻧَﺎ ٱﻟِذّۡï»›َر َوإِﻧﱠﺎ ﻟَﮫُÛ¥ ﻟََٰﺣِï»”ُظوَÙ†

“Sesunguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.”

Perihal keistikamahan beliau yang sudah saya tulis diatas juga sering disampaikannya. Saya pernah dengar beliau mengatakan “afdholul a’mali ilallahi adwamuha wainqolla” yang artinya paling utamanya amal adalah istikmah meskipun sedikit.

“Coba lebih utama mana kamu baca Alquran setiap hari satu lembar, ketimbang kamu baca Alquran setiap hari satu kali hatam tapi tidak baca lagi sampai satu tahun. Itu lebih baik baca satu lembar setiap hari. Karena kita bisa menyapa, dengan sering menyapa maka tentunya saling mengingat,” tegas beliau.

Semoga kita semua sebagai keluarga, santri alumni, dan simpatisan dari Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton mampu melanjutkan keilmuan dan perjuangan dari Kiai Hefni. Beliau telah kembali, semoga senantiasa menyandang khusnul khotimah. Aammin. Pada sore ini, jam 15.00 WIB (ba’da salat asar) beliau akan dimakamkan di area maqbaroh KH Hasan Abdul Wafie (selatan).

***

*) Oleh: Abdur Rahmad - Santri Pondok Mahasiswa (Pomas)

*) Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi anonapers.com

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: redaksianona@gmail.com

**) Redaksi berhak tidak menayangkan kiriman tulisan yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi ANONA Pers.