Sore ini, jalanan Probolinggo Situbondo masih sama layaknya
hari-hari biasanya. Lampu penerang jalan dan lampu kendaraan menjadi penghias
jalan untuk menyongsong malam. Orang-orang dengan ciri pakaiannya yang
berbeda-beda mulai memadati jalan. Ada pula yang masih dengan obrolannya di
tempat warung kopi.
Setiap harinya, jalanan tidak pernah sepi dari kendaraan. Entah mau
kemana dan dari mana. Disela-sela banyak kendaraan tersebut, ada mobil Luxio
putih yang turut memdati jalan. Di dalamnya ditumpangi oleh sembilan orang
(santri) yang hendak mengunjungi banyak tempat di Situbondo, Banyuwangi, dan
Bondowoso.
Selain itu, mereka yang berstatus santri, nyatanya juga ingin
melepas kepenatan. Meskipun kegiatan di Pesantrenya cukup full, mereka tetap
menyempatkan waktu untuk mencari ilmu, barakah, pengalaman, dan merefresh otak
di luar pesantrennya. Tentu, hal ini bertujuan agar perjalanan mereka menjadi
santri lebih baik dan berguna.
Dari Nurul Jadid ke Sumber Bunga
Dengan Luxio putih itu, sembilan orang yang berada di dalamnya
dibawa untuk mengunjungi sebuah Pondok Pesantren di Situbondo. Mereka adalah
santri Nurul Jadid yang juga pengurus dan anggota MATAN (Mahasiswa Ahlith
Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyah) Universitas Nurul Jadid (UNUJA) Paiton.
Ternyata mereka berkeinginan untuk mengikuti Tawajjuhan bersama di Pondok
Pesantren Sumber Bunga Sletreng Situbondo.
Nyatanya mereka cukup lelah dengan kegiatan yang sangat banyak di
Pesantrennya. Namun, karena visi mereka adalah Ngalap Barakah, maka lelah bukan
alasan untuk tidak bergerak. Berangkatlah demi sebuah tujuan yang cukup mulia
tersebut. Ingin berjuang untuk akhirnya menemukan sanad ilmu dan pengalaman
yang lebih jelas dan berarti.
Berlanjut ke Salafiyah Syafiiyah
Acara di Sumber Bunga pun selesai. Acara dapat diikuti dengan baik
sampai akhirnya selesai. Jam sudah menunjukkan pada 23.15 malam. Dengan
kesepakatan bersama, kami langsung meneruskan perjalanan ke Pondok pesantren
sebelah. Bukan sebelah sih, karena tidak dekat jaraknya. Kami berlanjut ke
Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo.
Tujuan utamanya adalah memarkir mobil di halaman Masjid Jamik
Ibrahimy. Dengan melawan rasa kantuk, berjalanlah kami untuk berwudhu’ dan
mengaji di Asta Sukorejo. Banyaknya para peziarah, hingga meramaikan suasana
asta dengan lantunan ayat suci al-Quran.
Setelah itu, saya pribadi sedikit berbincang-bincang dengan kenalan
santri yang berasal dari daerah saya. Saling melepas rindu dan bercerita
mengenai kegiatan mondoknya. Suasananya yang cukup dingin ditengah malam itu,
membuat saya harus segera kembali mengambil langkah, otomatis harus juga
meninggalkan teman kenalan saya.
Hataman di AstaDatuk
Benar-benar melelahkan sekali, tubuh ini seakan butuh tempat untuk
berbaring. Tidak begitu tahan untuk berlama-lama duduk dalam kursi mobil. Tapi
tidak bisa dan harus dipaksa tetap duduk dengan kesakitan. Hingga akhirnya,
lantunan lagu di dalam mobil membuat kami asyik hingga terlelap.
Suasana menjelang subuh selalu dibarengi dengan lantunan shalawat
tarhim dimana-mana. Orang-orang mulai bangun dari tidurnya. Ada yang masih
duduk di sekitar jalanan. Ada juga yang sudah melangkah ke masjid terdekat.
Kami yang tadinya terlelap, juga dibangunkan untuk juga memeriahkan masjid.
Menyongsong shalat subuh itu, kami menghatamkan Qur’an di salah satu asta
(makam) ulama di Banyuwangi. Namanya, Datuk Abdurrahman Bin Abu Bakar Bin Abdurrahim Bauzir
Sowan ke Alas Buluh
Setelah shalat subuh, kami masih harus melanjutkan perjalanan ke
daerah Alas Buluh. Di daerah tersebut, berdiri Pondok Pesantren Nurul Abror
yang diasuh oleh KH Fadlurrahman Zaini. Beliau adalah kakak dari KH Zuhri
Zaini, BA, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton.
Meskipun jaraknya sangat jauh dari Paiton. Kami sangat berantusias
untuk sowan ke beliau. mengharap barakah dan motivasi dari beliau. mengingat
kami sebagai manusia yang tidak pernah luput dari salah, maka dengan itu kami
menjembatani dengan berbagai kebaikan. K Fadlur disela-sela sibuknya di
Pondoknya, sangat menyambut kami dengan ramah. Mempersilahkan kami duduk dan
menjamu dengan sebaik mungkin.
Terakhir ke Bondowoso
Sekitar jam 9 pagi, kami pamit pulang. Dikarenakan juga, beliau ada
janji di sebuah acara di Jember. Meskipun waktu yang sangat singkat itu, kami
sangat mempergunakannya dengan baik. Sesuai dengan tujuan, harapan kami untuk mendapat
ilmu, pengetahuan, dan barakah dari beliau sebagai ulama’nya Allah.
Perjalanan terakhir, kami melaju ke daerah Bondowoso. Kebetulan ada
teman yang ikut dalam rombongan kami yang berasal dari Bondowoso. Tepatnya di
daerah cermeeh. Tidak ada tujuan yang pasti dan penting, hanya saja ingin
bersilaturrahim dan untuk mengetahui rumah dari teman saya tersebut.
Jumatan, kami gelar di Bondowoso. Istirahat yang puas dan makan
yang cukup juga kami tuangkan di Bondowoso. Hal ini agar perjalanan pulang
lebih santai tanpa lelah lagi. Cukuplah 24 jam saja. Kami pamit untuk numpang
menginjakkan kaki dan urakan bersama.
Sebuah Perjalanan, 10-11 Januari 2019